Sidrap, Katasulsel.com — Ada satu penyakit lama dunia kampus, riset yang selesai di ruang seminar.
Indah di PowerPoint. Rapi di jurnal. Tapi hilang begitu saja ketika keluar dari gedung akademik.
UMS Rappang tampaknya sedang mencoba mengganggu kebiasaan itu.
Pelan, tapi serius.
Nama panjangnya Pappulung Aropoe
Programnya bernama cukup “berat”:
Pappulung Aropoe: Hilirisasi Tata Kelola Digital TPS3R Mitra Formasi Mallomo melalui Penguatan Model Rais-MR3 untuk Layanan Sampah Terjadwal.
Kalau dibaca sekali, bisa pusing.
Kalau dibaca dua kali, baru terasa: ini soal sampah.
Dan uangnya tidak kecil. Sekitar Rp1,4 miliar, skema multi year. Artinya, proyek ini tidak disuruh cepat selesai. Tidak dikejar-kejar seperti laporan akhir semester.
Ia dibiarkan tumbuh, diuji, diperbaiki.
Dari jurnal ke jalanan
Di atas kertas, ini disebut hilirisasi riset.
Di lapangan, ini berarti satu hal sederhana:
ilmu kampus harus bisa dipakai di dunia nyata.
Bukan hanya dibaca, tapi bekerja.
Termasuk di TPS3R — tempat yang biasanya tidak masuk slide presentasi dosen.
Di sanalah teori akan diuji tanpa ampun.
Tidak ada “revisi bab tiga”. Yang ada hanya: jalan atau tidak jalan.
Model Rais-MR3, nama akademik, beban lapangan
Di balik program ini ada satu istilah kunci: Model Rais-MR3.
Di ruang akademik, ia terdengar seperti teori tata kelola.
Di lapangan, ia dipaksa menjadi sistem:
bagaimana sampah dicatat
bagaimana layanan dijadwalkan
bagaimana data dibaca
dan bagaimana keputusan diambil
Tiga kata kuncinya: tata kelola, teknologi, nilai ekonomi
Atau dalam bahasa sederhana: sampah jangan cuma diangkut, tapi juga dikelola jadi bernilai.
Multi year: riset yang tidak panik
Skema multi year dalam proyek ini menarik.
Biasanya, proyek riset di Indonesia sering dikejar waktu. Hasil harus cepat. Laporan harus segera.
Tapi di sini, pendekatannya berbeda.
Ada ruang untuk salah.
Ada ruang untuk koreksi.
Ada ruang untuk ulang.
Dalam bahasa akademik: iterasi.
Dalam bahasa lapangan: “kalau belum jalan, kita benahi lagi.”
Sampah naik kelas jadi ekonomi
Menariknya, program ini disambungkan dengan program daerah:
Tanam–Panen–Hilirisasi.
Biasanya itu bahasa pertanian.
Sekarang dipindahkan ke sampah.
Sampah masuk → “tanam”
Dipilah → “panen”
Diolah → “hilirisasi”
Sampah yang dulu dibuang, kini diperlakukan seperti komoditas.
Tidak romantis. Tapi logis.
Digitalisasi TPS3R: biar sampah ikut zaman
Ada satu kata yang sering muncul: digital.
TPS3R dalam program ini tidak lagi manual sepenuhnya.
Ada sistem yang mencoba membuat:
data lebih rapi
layanan lebih terjadwal
keputusan lebih berbasis angka
Bahasa kerennya: smart governance.
Bahasa lapangannya: tidak lagi “kira-kira”.
Kampus turun tangan
Di balik program ini, ada nama Associate Prof. Dr. Ir. Rais Rahmat Razak, M.Si bersama tim dosen dan mahasiswa.
Biasanya dosen berdiri di depan kelas.
Kali ini sebagian harus turun ke lapangan.
Karena riset ini tidak bisa hanya diajarkan.
Ia harus dijalankan.
Riset yang ingin meninggalkan menara gading
Rais menyebut hilirisasi bukan sekadar hasil penelitian.
Tapi jembatan.
“Bukan hanya ilmu yang diuji, tapi bagaimana ilmu itu bekerja di masyarakat,” kira-kira begitu semangatnya.
Dan di situlah perubahan kecil sedang dicoba.
Penutup: dari kampus ke bau nyata lapangan
Ada pergeseran yang pelan tapi terasa:
Dari jurnal ke TPS3R.
Dari teori ke sistem.
Dari ruang akademik ke lapangan yang tidak bisa diedit ulang.
Dan mungkin itu ukuran baru kampus hari ini:
bukan seberapa banyak ia menulis,
tapi seberapa jauh ia benar-benar bekerja di dunia nyata. (*)


