Makassar, katasulsel.com — PSM Makassar sedang seperti kapal karam di tengah badai papan tengah Liga 1 2025/2026.
Tiga kekalahan beruntun menempel seperti lilin panas, meninggalkan jejak luka di setiap sudut lapangan.
Dari posisi ke-13 dengan 23 poin, Juku Eja kini tertinggal 18 angka dari Malut United, tim yang menempati batas zona 4 besar.
Zona Asia?
Bagi PSM, saat ini hanya fatamorgana di cakrawala, tampak dekat tapi tak pernah dijangkau. Macz Man menahan napas, menahan harap, sambil menghela kekecewaan setiap kali papan skor menampilkan angka pahit.
Sisa enam laga menjadi ujian hidup dan mati.
Kandang melawan Persita Tangerang (2 Maret) bisa menjadi angin segar untuk memutus tren negatif. Persita memang lawan seimbang, tapi PSM bermain di Parepare, artinya peluang menang cukup terbuka jika mental dan fokus tidak goyah.
Seminggu kemudian, tandang ke Malut United (7 Maret) seperti menabrak tembok tebal.
Konsistensi lawan di zona 4 membuat kemenangan hanya mungkin dalam skenario dramatis: performa sempurna ditambah kesalahan fatal dari Malut United.
Laga kandang melawan Persis Solo (4 April) dan Persik Kediri (23 April) wajib menjadi pesta kemenangan. Lawan-lawan papan bawah ini ideal untuk mengumpulkan poin dan menambal luka lama.
Sedangkan tandang ke PSIM Yogyakarta (10 April) adalah ujian tricky—hasil imbang realistis karena PSIM cukup solid di kandang sendiri.
Laga puncak menghadapi Borneo FC (18 April) ibarat menghadapi raksasa yang tidur di gua sendiri. Hanya keajaiban atau performa luar biasa yang bisa membuat Juku Eja mencuri poin.
Jika skenario realistis tercapai—tiga kemenangan, dua imbang, satu kalah—PSM bisa mengumpulkan 9–11 poin tambahan.
Posisi mereka bisa naik ke urutan 8–10, aman dari zona degradasi, tapi jarak ke zona 4 tetap jauh.
Realitasnya: mengejar tiket Asia nyaris mustahil. Kompetitor di atas lebih konsisten, dan enam laga terlalu singkat untuk perubahan drastis.
Mental tim menjadi sorotan utama. Tiga kekalahan beruntun meninggalkan bekas di kepala pemain, seolah badai terus menghantam kapal tanpa henti.
Pelatih Bernardo Tavares mencoba menenangkan skuad dengan pujian, tapi kata-kata manis tidak cukup menutupi fakta pahit: performa di lapangan harus berubah sekarang, atau malu akan terus menempel.
Macz Man menahan napas, menahan kecewa, sementara Bonek berpesta di tribun Surabaya. Tekanan tribun bisa menjadi pedang bermata dua: membakar semangat, atau menambah beban psikologis.
PSM Makassar harus realistis. Fokus utama saat ini bukan mengejar zona 4 yang jauh, tapi memulihkan mental tim, memaksimalkan laga kandang, dan mengakhiri musim dengan harga diri tetap utuh.
Di Liga 1, yang kuat bertahan, yang lemah terombang-ambing dan terlupakan.
Macz Man menunggu bukti bahwa Juku Eja masih layak disebut tim papan atas—dan sejauh ini, bukti itu masih samar, terombang-ambing di lautan papan tengah, sementara papan atas sudah hilir-mudik di cakrawala.
Setiap laga berikutnya adalah kesempatan, atau tragedi. Setiap gol yang hilang adalah luka baru.
Di dunia sepak bola, kesempatan tidak menunggu yang tertidur, dan badai papan tengah Liga 1 sedang menunggu PSM untuk menunjukan apakah mereka benar-benar kapal yang mampu bertahan atau sekadar kayu apung yang hanyut tak tentu arah. (*)

Tinggalkan Balasan