Sidrap, katasulsel.com — Ada undangan yang disampaikan lewat surat.
Ada juga yang diselipkan di momen yang tepat.
Syaharuddin Alrif memilih cara kedua.
Sabtu, 28 Maret 2026.
Di tengah hangatnya suasana Syawalan 1447 Hijriah yang digelar Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sulawesi Selatan di Makassar, percakapan itu terjadi.
Tidak panjang.
Tapi cukup menentukan arah sebuah agenda besar.
Undangan yang Tidak Biasa
Di hadapan Abdul Mu’ti, Syaharuddin tidak berbasa-basi.
Ia langsung mengundang:
datang ke Sidrap, Juli nanti.
Bukan untuk seremoni biasa.
Tapi untuk Porsenijar PGRI tingkat Provinsi Sulawesi Selatan—sebuah perhelatan yang diprediksi menghadirkan sekitar 60 ribu tenaga pendidik.
Angka yang tidak kecil.
Bahkan untuk ukuran provinsi.
Sidrap Sedang Menyiapkan Panggung Besar
Syaharuddin datang tidak sendiri.
Di sampingnya, ada Nurkanaah—yang juga memegang peran sebagai Ketua PGRI Sidrap.
Pesannya jelas:
Sidrap siap.
Bukan sekadar menjadi tuan rumah,
tapi ingin menjadikan Porsenijar sebagai momentum.
Momentum kebangkitan.
Momentum konsolidasi.
Momentum menunjukkan bahwa daerah juga bisa menjadi pusat gerak pendidikan.
Menteri Menangkap Sinyal Itu
Respons Abdul Mu’ti tidak berputar-putar.
Ia mengapresiasi.
Dan yang lebih penting—memberi sinyal positif.
Di forum seperti Syawalan, jawaban seperti itu seringkali lebih dari sekadar formalitas.
Ia adalah kode awal.
Bahwa Sidrap masuk radar.
Ada Nama-Nama Besar di Sekitar
Pertemuan itu tidak berlangsung di ruang tertutup.
Ada Andi Sudirman Sulaiman.
Ada kepala daerah lain.
Ada jajaran Muhammadiyah.
Artinya, undangan itu bukan hanya didengar Menteri.
Tapi juga disaksikan oleh mereka yang punya peran dalam memastikan acara ini benar-benar besar.
Lebih dari Sekadar Event
Porsenijar bukan hanya lomba olahraga dan seni.
Ia adalah tempat guru bertemu.
Berbagi.
Dan—tanpa disadari—membangun energi kolektif.
Jika benar 60 ribu guru hadir,
Sidrap tidak hanya menjadi tuan rumah.
Ia akan berubah menjadi pusat percakapan pendidikan Sulawesi Selatan selama beberapa hari.
Pertanyaan Besarnya
Kini tinggal satu yang menggantung:
Apakah Menteri benar-benar akan datang?
Jika iya,
maka yang terjadi bukan sekadar kunjungan.
Tapi legitimasi.
Dan bagi daerah seperti Sidrap,
itu bisa menjadi titik loncat yang tidak semua kabupaten dapatkan.
Syaharuddin sudah melempar undangan.
Waktunya sudah ditentukan.
Sekarang, semua menunggu satu hal:
Apakah Juli nanti, Sidrap benar-benar menjadi panggung 60 ribu guru—dengan Menteri di tengahnya? (*)


