Bone, katasulsel.com — Malam itu seharusnya jadi malam paling bahagia. Lampu tenda menyala, tamu berdatangan, tawa bersahutan. Tapi takdir berkata lain. Hujan turun deras, angin datang tanpa aba-aba, lalu suara patahan kayu memecah suasana.
Dalam hitungan detik, pesta berubah jadi kepanikan.
Peristiwa memilukan itu terjadi di Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan, Kamis malam (9/4/2026) sekitar pukul 21.00 WITA. Tiga batang pohon tua tiba-tiba tumbang dan menghantam tenda tempat resepsi pernikahan berlangsung.
Di bawah tenda itu, orang-orang sedang berkumpul. Sebagian duduk, sebagian berdiri, menikmati malam yang mestinya penuh kebahagiaan.
Namun yang datang justru petaka.
Enam orang tertimpa. Lima di antaranya mengalami luka-luka. Satu orang tak tertolong.
Ia adalah Nurhayati (50). Bukan tamu biasa. Ia ibu dari mempelai pria.
Perempuan yang seharusnya duduk tersenyum menyaksikan anaknya memulai hidup baru, justru mengembuskan napas terakhir di lokasi kejadian.
Kapolsek Kahu, Iptu Andi Muhammad Amir, membenarkan insiden tersebut. Menurutnya, cuaca ekstrem menjadi pemicu utama.
“Malam itu hujan deras disertai angin kencang. Pohon tumbang dan menimpa tenda pengantin,” ujarnya saat dikonfirmasi, Jumat (10/4).
Benturan keras dari batang pohon menyebabkan korban meninggal mengalami luka berat di bagian kepala serta patah leher. Sementara korban lain menderita luka robek dan patah tulang.
Suasana resepsi yang semula riuh berubah jadi tangis. Musik berhenti. Lampu tetap menyala, tapi tak lagi membawa hangat.
Keluarga memilih menerima takdir dengan ikhlas. Mereka menolak dilakukan autopsi terhadap jenazah Nurhayati.
Kini, rumah duka dipenuhi pelayat. Tangis menggantikan tawa yang sempat hadir malam itu.
Sebuah pesta pernikahan yang berubah arah—dari pelaminan ke kehilangan. (*)


