Kendari, Katasulsel.com — Cerita ini tidak dimulai di kantor. Bukan pula di lokasi tambang.
Ia dimulai dari sebuah warung kopi.
Di sanalah operasi tangkap tangan (OTT) digelar, Rabu, 25 Maret 2026. Dari meja sederhana, aparat menemukan sesuatu yang jauh lebih besar: dugaan praktik pemerasan yang menyeret 11 orang menjadi tersangka.
Kasus ini menyeret nama PT ST Nickel Resources—perusahaan tambang yang jalur operasionalnya sempat diblokade di dua titik di Kota Kendari.
Blokade itu bukan sekadar aksi spontan.
Polisi melihat ada pola.
Ada tekanan.
Dan ada permintaan uang.
Kepala Satreskrim Polresta Kendari, AKP Welliwanto Malau, menyebut pengungkapan ini berkembang cepat. Dari enam orang yang diamankan saat OTT, empat langsung ditetapkan sebagai tersangka.
Lalu pintu terbuka lebih lebar.
Pengembangan membawa penyidik pada tujuh nama lain. Total 11 orang.
Namun yang menarik, polisi justru menarik garis tegas: ini bukan gerakan organisasi.
Ini individu.
“Para tersangka diproses atas perbuatan pribadi, bukan atas nama institusi atau kelompok tertentu,” tegas Welliwanto.
Di sinilah sisi lain mulai terlihat.
Aksi blokade disebut-sebut mengatasnamakan kepentingan masyarakat. Dalih yang kerap muncul dalam konflik tambang.
Tapi di meja warung kopi itu, polisi menemukan uang tunai puluhan juta rupiah.
Diduga hasil transaksi.
Diduga bagian dari skema.
Polanya tak rumit: jalur hauling ditutup, aktivitas perusahaan terganggu, lalu muncul negosiasi.
Ujungnya: uang.
Praktik seperti ini bukan hal baru di wilayah dengan aktivitas tambang tinggi. Ketegangan antara kepentingan ekonomi dan klaim sosial kerap menjadi ruang abu-abu.
Di ruang itulah, dugaan pemerasan ini tumbuh.
Polisi kini menahan seluruh tersangka di Mapolresta Kendari. Barang bukti telah diamankan. Penyidikan terus berjalan.
Kasus ini bukan hanya soal hukum.
Ia membuka wajah lain dari relasi tambang dan masyarakat—tentang siapa yang benar-benar berbicara atas nama warga, dan siapa yang memanfaatkannya.
Sementara itu, aparat menegaskan satu hal: tidak ada toleransi.
Premanisme, dengan atau tanpa label, akan ditindak.
Dan kali ini, semuanya berawal dari secangkir kopi. (*)


