📣 Ikuti saluran resmi WhatsApp kami sebelum membaca berita!

Join WhatsApp

Karena disertasi bukan sekadar tulisan. Ia adalah janji. Janji bahwa apa yang diteliti harus bisa dipertanggungjawabkan. Secara ilmiah. Secara moral. Secara kebijakan.

Usai presentasi, diskusi mengalir. Ada catatan. Ada kritik. Ada saran. Tidak semuanya mudah. Tidak semuanya nyaman.

Tapi Syaharuddin tidak defensif.

Ia malah mengundang.

Ia mengajak para akademisi turun ke Sidrap. Meneliti langsung. Menguji data. Mengamati petani. Melihat porang tumbuh di tanah, bukan di slide presentasi.

Sidrap, katanya, terbuka.

Kalimat itu sederhana. Tapi maknanya besar.

Tidak semua daerah siap dijadikan laboratorium. Karena riset bisa membuka kelemahan. Bisa membongkar kekurangan. Bisa menyingkap hal-hal yang tidak selalu menyenangkan.

Syaharuddin tidak takut itu.

Karena ia paham, kebijakan yang baik lahir dari keberanian diuji.

Di akhir seminar, ia menutup dengan kalimat yang tidak klise. Tidak normatif. Tidak berbunga-bunga.

Ia hanya berharap, hasil kajian ini bisa diterapkan untuk meningkatkan kesejahteraan petani.

Bukan untuk laporan. Bukan untuk rak perpustakaan. Bukan untuk sekadar lulus.

Diterapkan.

Kata itu penting.

Di situ terlihat orientasinya. Ia tidak sedang membangun menara gading akademik. Ia sedang merakit alat kerja.

Sidrap selama ini dikenal sebagai daerah agraris. Lumbung pangan. Basis pertanian. Tapi Syaharuddin ingin lebih dari itu. Ia ingin Sidrap menjadi contoh bagaimana daerah mengelola komoditas dengan kebijakan yang berpikir jauh.

Porang hanya satu pintu. Di belakangnya ada gagasan besar tentang bagaimana pemerintah daerah seharusnya bekerja: berbasis data, berbasis riset, berbasis keberlanjutan.

Syaharuddin tahu, jabatan bupati ada batasnya. Tapi ilmu tidak.

Disertasi ini, kelak, akan tetap hidup bahkan setelah masa jabatannya berakhir. Ia bisa menjadi rujukan. Bisa dikritik. Bisa disempurnakan. Bisa diwariskan.

Itulah mungkin yang jarang disadari: bahwa pemimpin yang baik bukan hanya meninggalkan bangunan, tetapi juga pemikiran.

Di zaman ketika banyak pejabat sibuk membangun citra, Syaharuddin memilih membangun fondasi.

Tidak semua orang akan melihat prosesnya. Tidak semua akan mengapresiasi. Tapi bagi mereka yang paham, ini bukan hal kecil.

Seorang bupati duduk sebagai mahasiswa doktoral, diuji secara akademik, membicarakan kebijakan yang ia jalankan sendiri, dari ruang kerjanya sendiri.

Itu bukan sekadar seminar.

Itu pernyataan sikap.

Bahwa Sidrap tidak dikelola dengan coba-coba. Bahwa kebijakan tidak lahir dari intuisi semata. Bahwa pemimpin pun harus mau belajar, bahkan ketika ia sudah berada di puncak struktur.

Dan pagi itu, di lantai III Kantor Bupati Sidrap, Syaharuddin Alrif sedang melakukan hal yang jarang: memimpin sambil berpikir. (*)