Jakarta — Sirkuit panas. Angin Andalusia berembus kencang. Tapi yang paling panas justru stopwatch.

Pembalap muda Indonesia, Veda Ega Pratama, datang ke tes resmi Moto3 di Circuito de Jerez, Spanyol, dengan status rookie. Datang untuk belajar? Mungkin iya. Tapi pulangnya membawa label baru: ancaman serius.

Dari 1:46 ke 1:44 — Bukan Sekadar Turun Waktu

Hari pertama, Veda main aman. Feeling dulu dengan karakter Honda NSF250RW. Catatan waktunya masih di kisaran 1 menit 46 detik. Adaptasi sasis, cari setelan suspensi, utak-atik racing line. Rookie mode: ON.

Masuk hari kedua, gas dibuka lebih berani.

Boom!

Waktunya merosot tajam ke 1 menit 44,968 detik. Hampir 1,6 detik dipangkas dalam dua hari. Di kelas seketat Moto3, itu bukan angka kecil. Itu lompatan besar. Biasanya butuh beberapa seri untuk dapat improvement seganas itu.

Paddock mulai berbisik.

Salip Talenta Asia, Pepet Tuan Rumah

Yang bikin tambah menarik, Veda bukan cuma membaik sendirian.

Ia tampil lebih cepat dari talenta Asia yang lebih dulu dikenal seperti Zen Mitani dan Hakim Danish. Bahkan pembalap Spanyol, Brian Uriarte, juga harus mengakui keunggulan tipis Veda—selisih cuma 0,1 detik.

Tipis? Iya. Tapi di Moto3, 0,1 detik itu bisa berarti tiga sampai lima posisi di grid.

Tak berlebihan jika ia dijuluki “Raja Rookie Asia” dalam sesi tes ini.

Late Braking Ganas, Aroma Marquez?

Satu hal yang mencolok dari gaya balap Veda: late braking.

Dia menahan pengereman sampai titik terakhir, masuk tikungan dengan agresif, tapi tetap presisi. Gaya ini mengingatkan publik pada Marc Marquez — ikon pengereman ekstrem yang jadi legenda di kelas grand prix.

Di sektor pertama dan kedua Jerez, Veda terlihat sangat kuat. Trail braking-nya bersih. Motor tetap stabil saat entry corner. Bukan cuma nekat, tapi terukur.

Yang lebih impresif? Best lap justru lahir di lap ke-65. Saat ban mulai drop. Artinya apa? Manajemen ban dan race pace sudah mulai terbentuk. Ini bukan cuma soal one lap time, tapi fondasi balap panjang.

Top Speed 215,5 Km/Jam — Berani Buka Gas Duluan

Data juga bicara.

Top speed Veda menyentuh 215,5 km/jam. Kunci utamanya ada di exit corner. Dia berani buka gas lebih awal. Akselerasi agresif, minim wheelspin. Kombinasi yang bikin motor melesat di trek lurus Jerez.

Itu paket komplet: braking tajam, corner speed terjaga, exit kencang.

Tembus 17 Besar — Rookie Rasa Senior

Secara keseluruhan, Veda masuk 17 besar dari seluruh peserta tes. Untuk pembalap yang baru menapaki kerasnya persaingan Moto3 dunia, ini bukan sekadar hasil lumayan.

Ini statement.

Bahwa dia tidak datang hanya untuk numpang lewat.

Checklist Performa Veda di Jerez

  • Pangkas waktu hampir 1,6 detik dalam dua hari.
  • Ungguli beberapa pembalap Asia yang lebih berpengalaman.
  • Tunjukkan late braking agresif ala Marquez.
  • Konsisten meski ban aus di akhir sesi.
  • Top speed tembus 215,5 km/jam.
  • Finish di 17 besar tes resmi.

Musim masih panjang. Trek berbeda, tekanan berbeda, cuaca berbeda. Tapi satu hal sudah jelas: Indonesia punya prospek cerah di grid Moto3.

Kalau progres ini terus berlanjut, bukan mustahil Veda bisa mengincar posisi 10 besar saat lampu start resmi musim ini padam.

Gas sudah dibuka.

Sekarang tinggal jaga ritme — dan jangan kendor (*)