WASHINGTON DC, Katasulsel.com – Suasana tenang di sekitar Mar-a-Lago mendadak berubah mencekam. Seorang pria bersenjata tewas ditembak agen United States Secret Service setelah diduga mencoba menerobos perimeter keamanan resor milik Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, Minggu (23/2/2026) dini hari waktu setempat.
Pria itu diidentifikasi sebagai Austin Tucker Martin (21), asal North Carolina. Ia datang membawa shotgun dan tabung bahan bakar. Waktu menunjukkan sekitar pukul 01.30 saat ia terlihat berada di gerbang utara kompleks.
Dua agen Secret Service dan seorang deputi Sheriff Palm Beach County langsung memberi peringatan keras: letakkan senjata. Namun menurut keterangan resmi, Martin hanya menurunkan tabung bahan bakar dan justru mengangkat shotgun ke posisi menembak.
Detik berikutnya, tembakan dilepaskan.
Martin roboh di lokasi. Tidak ada petugas yang terluka. Trump sendiri dilaporkan sedang berada di Gedung Putih saat kejadian.
Gedung Putih menyebut tindakan aparat sebagai langkah cepat dan tegas. Juru bicara menyatakan ancaman berhasil “dinetralkan” sebelum berkembang lebih jauh.
Namun pertanyaan besar muncul: apa motif di balik aksi nekat ini?
Sumber penyelidikan menyebut Martin sempat dilaporkan hilang beberapa hari sebelum insiden. Hingga kini belum ada kepastian apakah ia bertindak sendiri atau terinspirasi oleh gelombang ekstremisme domestik yang meningkat di AS.
Federal Bureau of Investigation (FBI) langsung mengambil alih kasus. Direktur FBI, Kash Patel, berjanji mengerahkan seluruh sumber daya untuk membongkar latar belakang peristiwa ini.
Insiden ini menambah daftar ancaman terhadap Trump. Sebelumnya, ia pernah menjadi sasaran tembakan saat kampanye di Pennsylvania dan insiden pria bersenjata di lapangan golf Florida.
Apakah ini aksi tunggal penuh emosi? Atau ada skenario lebih besar yang belum terungkap?
Yang pasti, dini hari itu menjadi pengingat: keamanan presiden AS kembali diuji—dan tensi politik Amerika masih jauh dari kata reda. (*)

Tinggalkan Balasan