Jakarta, katasulsel.com — Keputusan Dian Sastrowardoyo menjadi dosen tetap di Program Pendidikan Vokasi Universitas Indonesia bukan sekadar peran tambahan di luar dunia seni peran. Bagi aktris yang juga aktif di balik layar industri film itu, ruang kelas justru menjadi medan belajar baru yang tak kalah menantang.

Berhadapan langsung dengan mahasiswa yang usianya terpaut cukup jauh, Dian mengaku mendapatkan perspektif segar tentang cara berpikir generasi muda. Proses mengajar, menurutnya, bukan alur satu arah. Justru sebaliknya, ia merasa memperoleh pembelajaran berlipat dari setiap diskusi yang terbangun di kelas.

Mengajar, kata Dian, menuntut keterbukaan. Dari dialog dengan mahasiswa, ia bisa membaca denyut zaman—bagaimana generasi hari ini memandang isu, mengolah gagasan, hingga mengekspresikan diri. Interaksi semacam itu membuatnya tetap “terhubung” dengan perubahan selera dan pola pikir audiens yang kini semakin muda.

Kesadaran tersebut penting bagi Dian, mengingat posisinya sebagai pelaku industri kreatif. Ia menilai, pemahaman terhadap karakter penonton menjadi kunci dalam proses produksi film. Tanpa dialog dengan generasi baru, jarak antara pembuat karya dan audiens bisa kian melebar.

Dian juga menyoroti perbedaan bahasa dan kecenderungan mahasiswa vokasi saat ini yang tidak lagi sepenuhnya sama dengan generasi milenial. Dari sana, ia belajar memahami cara komunikasi yang relevan, sekaligus menangkap rasa ingin tahu yang hidup di kalangan mereka.

Karena itu, perannya sebagai dosen vokasi ia maknai sebagai proses timbal balik. Di satu sisi, ia membagikan pengalaman profesional. Di sisi lain, ia menyerap pengetahuan baru yang lahir dari dinamika kampus dan realitas generasi muda.

Selain mengajar, Dian memikul tanggung jawab akademik sebagai dosen pembimbing. Ia terlibat dalam pendampingan magang, penulisan skripsi, hingga pengujian karya akhir mahasiswa bimbingannya. Seluruh tugas tersebut dijalaninya dengan disiplin waktu yang terukur, berdampingan dengan aktivitasnya di industri film.

Baginya, peran ganda sebagai aktris dan pendidik bukan beban, melainkan ruang pengayaan. Dunia kampus memberinya kesempatan untuk terus relevan, sementara pengalaman profesionalnya diharapkan dapat memberi nilai tambah bagi mahasiswa vokasi yang bersiap memasuki dunia kerja kreatif.(*)