Sidrap, Katasulsel.com — Malam itu di Rumah Jabatan Gubernur Sulawesi Selatan, Ahad (29/3/2026), suasana terasa hangat.
Bukan sekadar silaturahmi.
Ada sesuatu yang sedang ditegaskan—diam-diam, tapi terasa.
Tentang daerah yang bekerja.
Tentang hasil yang mulai terlihat.
Di tengah ribuan undangan, nama Sidrap disebut. Bukan sekali. Tapi dua kali.
Dua penghargaan. Dua panggung. Satu pesan: ada kerja yang tidak sia-sia.
Gubernur Sulsel, Andi Sudirman Sulaiman, menyerahkan penghargaan Adipura 2025 kepada Bupati Sidrap, Syaharuddin Alrif.
Bukan hanya simbol. Ada apresiasi yang ikut menyertai.
Tentang kebersihan kota. Tentang tata kelola lingkungan. Tentang upaya yang sering dianggap kecil, tapi dampaknya besar.
Karena kota yang bersih—tidak pernah lahir dari kebetulan.
Ia lahir dari kebiasaan.
Dan kebiasaan itu, tidak mudah dibangun.
Tak lama berselang, panggung kedua menyusul.
Wakil Gubernur, Fatmawati Rusdi, menyerahkan penghargaan untuk kategori laju pertumbuhan PDRB kepada Wakil Bupati Sidrap, Nurkanaah.
Nilainya lebih besar.
Tapi pesannya sama pentingnya.
Ekonomi bergerak.
Dan pergerakan itu tidak datang tiba-tiba.
Ada proses panjang di belakangnya. Ada kebijakan. Ada koordinasi. Ada kerja yang mungkin tidak selalu terlihat.
Dalam sambutannya, Gubernur menyinggung hal yang lebih luas.
Tentang stabilitas harga. Tentang pupuk. Tentang gabah. Tentang jagung.
Hal-hal yang dekat dengan kehidupan masyarakat.
Ia juga menyebut dukungan pusat—300 unit jembatan yang dibangun.
Satu per satu.
Semuanya mengarah pada satu hal: konektivitas dan keseimbangan pembangunan.
“Kegiatan ini untuk memperkuat sinergi,” katanya.
Kalimat yang sederhana.
Tapi di situlah inti dari semuanya.
Sinergi.
Tanpa itu, penghargaan hanya jadi seremoni.
Dengan itu, penghargaan bisa jadi pijakan.
Bupati Syaharuddin Alrif tidak banyak bicara. Ia memilih bersyukur.
Dan mungkin itu cukup.
Karena di balik penghargaan itu, ada kerja kolektif. Ada orang-orang yang mungkin tidak disebut namanya satu per satu.
Petugas kebersihan. Aparatur. Masyarakat.
Semua punya bagian.
Malam itu, sekitar 2.500 orang hadir. Dari Forkopimda, kepala daerah, hingga kepala desa.
Ramai.
Tapi pesan yang dibawa pulang sebenarnya sederhana:
Bahwa pembangunan tidak selalu harus terlihat besar untuk disebut berhasil.
Kadang, ia dimulai dari hal-hal yang paling dasar.
Bersih.
Dan bergerak.
Sidrap, malam itu, menunjukkan keduanya. (*)


