LUWU — Program untuk petani. Tapi ujungnya malah berurusan dengan jaksa.
Kejaksaan Negeri Luwu akhirnya menetapkan lima orang sebagai tersangka dalam kasus dugaan korupsi Program Percepatan Peningkatan Tata Guna Air Irigasi (P3-TGAI) tahun anggaran 2024.
Nama yang paling menyita perhatian: mantan anggota DPR RI, Muhammad Fauzi.
Bukan hanya dia. Wakil Ketua DPRD Luwu Zulkifli juga ikut terseret.
Tiga orang lainnya berinisial M, AR, dan ARA.
Kepala Kejaksaan Negeri Luwu, Muhandas Ulimen, mengatakan kelimanya diduga bermain dalam skema pemotongan dana program irigasi.
Istilahnya klasik dalam kasus korupsi proyek: commitment fee.
Alias uang pelicin.
Menurut Muhandas, para tersangka diduga menekan para ketua kelompok tani penerima program agar menyerahkan sebagian dana bantuan.
“Kelompok tani diminta menyerahkan sejumlah uang dari dana yang dicairkan,” kata Muhandas, Kamis (5/3/2026).
Padahal program P3-TGAI ini seharusnya menjadi solusi bagi para petani.
Program ini dirancang untuk memperbaiki jaringan irigasi. Tujuannya jelas: meningkatkan produktivitas pertanian.
Tapi jika dana dipotong di tengah jalan, kualitas proyek bisa ikut tergerus.
Air irigasi mungkin tetap mengalir. Tapi manfaatnya tak maksimal.
“Perbuatan ini merugikan masyarakat petani dan berpotensi merugikan keuangan negara,” ujar Muhandas.
Setelah ditetapkan sebagai tersangka, kelima orang tersebut langsung ditahan.
Mereka akan menjalani masa penahanan 20 hari ke depan di Lapas Kelas II Palopo.
Penahanan itu dilakukan untuk mempermudah proses penyidikan.
Jaksa juga masih mendalami aliran dana serta kemungkinan adanya pihak lain yang ikut terlibat.
Para tersangka dijerat dengan Undang-Undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.
Pasal yang digunakan antara lain Pasal 12 huruf e UU Tipikor yang mengatur soal penyalahgunaan kekuasaan untuk memaksa seseorang memberikan sesuatu.
Ancaman hukumannya tidak ringan.
Bisa sampai 20 tahun penjara.
Kasus ini menjadi pengingat lama yang kembali muncul: proyek untuk rakyat sering kali menjadi ladang permainan.
Programnya bagus. Anggarannya besar.
Godaan pun datang.
Dan ketika jaksa mulai membuka berkas, satu per satu nama akhirnya muncul ke permukaan.(*)

Tinggalkan Balasan