Makassar, katasulsel.com – Anak-anak itu duduk berjejer, mata mereka berbinar penuh harap, tapi sesekali menatap sekeliling dengan rasa penasaran.
Di atas panggung Four Points by Sheraton Makassar, suasana Yatim Fest 2026 terasa hangat dan penuh energi.
Tidak sekadar festival, malam itu adalah janji, harapan, dan cahaya bagi ribuan anak yatim dari berbagai kabupaten dan kota di Sulawesi Selatan.
Yang menarik?
Di tengah keramaian itu, ada sosok Wakil Gubernur Sulawesi Selatan, Fatmawati Rusdi, berdiri tegak—dengan senyum hangat, tangan terbuka, dan mata berbinar.
Saat dinobatkan sebagai Bunda Yatim Sulawesi Selatan, ia bukan hanya menerima gelar simbolik.
Fatmawati, dengan nada lembut tapi tegas, menegaskan: amanah ini adalah tanggung jawab moral.
“Ini adalah amanah besar. Saya ingin menunjukkan bahwa ada harapan besar bagi anak-anakku,” katanya. Seketika, ratusan mata menatap, beberapa anak tersenyum malu-malu, beberapa menunduk. Tapi semua merasakan pesan yang sama: “Kita diperhatikan. Masa depan kita penting.”
Tema acara, “Dari Luka Menjadi Pembawa Cahaya”, terasa hidup malam itu.
Fatmawati menekankan bahwa luka masa lalu bukan untuk disimpan sendiri, tapi dijadikan pijakan untuk menggapai cahaya.
Ia mengingatkan anak-anak agar terus bermimpi, belajar, dan mencintai Al-Qur’an, karena mereka adalah generasi yang akan menerangi Sulawesi Selatan.
Yang unik, Fatmawati juga membeberkan strategi nyata. Setiap bulan, ia menggelar forum diskusi kelompok terarah (FGD) di rumah jabatannya untuk merumuskan langkah perlindungan dan kesetaraan pendidikan bagi anak-anak yatim.
Ia bahkan menargetkan 5.000 anak yatim dijangkau melalui roadshow di 24 kabupaten/kota di Sulawesi Selatan tahun ini.
Tak ketinggalan, ia menyebut program Sekolah Rakyat, inisiatif pemerintah untuk memperluas akses pendidikan inklusif. “Anak-anak kita adalah cahaya.
Kita harus pastikan mereka bisa belajar tanpa hambatan,” katanya sambil tersenyum, menatap anak-anak yang duduk di depan panggung.
Selain Fatmawati, malam itu juga hadir para tokoh penting: Ketua Yayasan Abulyatama Cabang Makassar, H. Ardiansyah, dan Trainer PPA Institute, Ustadz Muhlis Katili.
Mereka sepakat, kehadiran Wakil Gubernur memberikan semangat baru, bukan hanya sekadar kata-kata di atas panggung.
Di luar panggung, ada momen kecil tapi menyentuh.
Seorang anak bertanya, “Bu, kami bisa punya sekolah dekat rumah juga, kan?”
Fatmawati menunduk, menatap mata anak itu, lalu menjawab dengan lembut: “Insya Allah, kita akan usahakan. Semua anak punya hak belajar, punya masa depan.” Anak itu tersenyum lebar. Suasana itu, tulus dan sederhana, tapi meninggalkan kesan mendalam bagi semua yang hadir.
Malam itu di Makassar, di Yatim Fest 2026, bukan sekadar acara seremonial.
Itu adalah bukti kepedulian nyata pemerintah Sulawesi Selatan, wujud solidaritas, dan bukti bahwa dari luka, cahaya bisa lahir—cahaya yang akan menuntun masa depan anak-anak yatim.(*)

Tinggalkan Balasan