📣 Ikuti saluran resmi WhatsApp kami sebelum membaca berita!

Join WhatsApp

Sidrap, Katasulsel.com — Sore di Kabupaten Sidenreng Rappang punya warna sendiri. Langit pelan-pelan berubah jingga.

Angin berembus lembut melewati hamparan sawah yang jadi kebanggaan daerah ini. Anak muda mulai keluar rumah. Outfit santai, sandal favorit, kamera siap. Ngabuburit mode: ON.

Di pusat kota Pangkajene, jalanan mulai ramai. Motor lalu-lalang. Klakson tipis-tipis.

Taman kota jadi titik kumpul. Ada yang duduk melingkar, ada yang sekadar scroll TikTok sambil nunggu azan.

“Kalau nggak ke sini, rasanya ada yang kurang,” kata Fajar (20), mahasiswa yang hampir tiap sore nongkrong bareng circle-nya. “Ngabuburit di Sidrap itu vibes-nya tenang tapi tetap rame. Healing gratis.”

Satu momen yang paling ditunggu? Jelas: war takjil.

Pedagang mulai berjajar rapi. Kolak pisang, es buah, jalangkote, barongko, sampai minuman kekinian. Semua ada. Datang terlambat sedikit? Siap-siap gigit jari. Favorit bisa auto sold out.

Anak-anak muda menyebutnya: misi berburu takjil. Ada yang beli buat keluarga. Ada juga yang beli sambil ngemil duluan—katanya “tes rasa”.

Tapi ngabuburit di Sidrap bukan cuma soal nongkrong dan jajan. Banyak juga yang pilih jalur lebih “berisi”. Masjid-masjid di sekitar kota mulai dipadati remaja. Tadarus, kultum, hingga berbagi takjil gratis di pinggir jalan jadi pemandangan yang bikin hati adem.

Sidrap, yang dikenal sebagai lumbung beras Sulsel, justru terasa paling hidup saat senja Ramadhan. Perpaduan kota kecil, sawah hijau, dan langit jingga menciptakan suasana yang estetik tanpa perlu filter.

Beberapa komunitas lokal juga ikut meramaikan. Ada yang bikin mini event akustik. Ada UMKM dadakan buka lapak. Ramadhan jadi momentum cuan sekaligus silaturahmi. Istilah populernya: berkah maksimal, circle makin solid.

Menjelang azan Magrib, suasana mendadak hening. Semua mata ke jam. Begitu beduk terdengar, serempak terdengar ucapan syukur.

Detik itu juga, gelas terangkat. Senyum pecah.

Di Sidrap, ngabuburit bukan cuma nunggu waktu. Ini soal kebersamaan. Soal cerita kecil yang selalu terulang tiap Ramadhan—tapi rasanya nggak pernah basi.
Besok sore? Ketemu lagi.

Karena di Sidrap, senja bukan sekadar transisi. Tapi tradisi. (*)