Edy Basri EDITOR
Redaktur Katasulsel.com yang mengawal isu publik dan dinamika pembangunan daerah.
Artikel: 320 Lihat semua

Sidrap, katasulsel.com — Menjelang magrib. Poros Sidrap–Soppeng mulai berubah ritmenya.

Motor melambat. Mobil menepi. Beberapa bahkan berhenti mendadak.

Bukan karena macet. Bukan juga karena razia.

Karena gogos. Pape.

Nama kecil di pinggir jalan itu tiba-tiba terasa besar setiap Ramadhan.

Tidak ada spanduk besar. Tidak ada lampu neon yang mencolok.

Hanya lapak sederhana. Arang menyala. Dan daun pisang yang perlahan menghitam di atas bara.

Tapi aromanya…

Sulit ditolak.

Gogos sebenarnya makanan lama.

Ketan.
Dibungkus daun pisang.
Dipanggang perlahan.

Tidak rumit.

Namun di Pape, rasanya seperti punya cerita sendiri.

Apalagi kalau dipasangkan dengan telur asin.

Gurih ketan panggang.
Asin lembut dari telur.

Sederhana.

Tapi pas.

Pas sekali untuk berbuka.

Rahmat sudah tahu itu.

Pengendara asal Soppeng itu bahkan mengaku sering “mengatur waktu perjalanan”.

Supaya sampai di Pape menjelang magrib.

“Kalau lewat sini dan tidak singgah, rasanya ada yang kurang,” katanya sambil membuka bungkus daun pisang yang masih mengepulkan uap.

Gogos panas.
Aroma daun pisang terbakar.

Rahmat tersenyum.

Bukan hanya Rahmat.

Beberapa mobil keluarga juga terlihat parkir di tepi jalan.

Anak-anak duduk di kursi plastik.
Orang tua memesan gogos.

Menunggu azan.

Tidak ada restoran mewah.
Tidak ada dekorasi mahal.

Tapi suasananya… hangat.

Ramadhan terasa sangat dekat di tempat seperti ini.

Bagi para penjual, ini musim panen.

Nuraeni sudah lama berjualan gogos di Pape.

Ramadhan selalu membawa cerita yang sama.

Ramai.

“Kalau bulan puasa hampir selalu habis,” katanya sambil membalik gogos di atas bara arang.

Pekerjaan itu tidak bisa buru-buru.

Api harus pas.

Terlalu besar?
Gosong luar, mentah dalam.

Terlalu kecil?
Tidak matang.

Ada seni kecil di balik gogos.

Ramlah, penjual lain, tertawa kecil saat bercerita tentang pelanggan.

“Banyak yang sudah langganan tiap tahun,” katanya.

Ada yang datang dari jauh.
Ada yang sengaja memutar jalan.

Hanya untuk satu hal.

Gogos Pape.

Menjelang magrib.

Langit mulai berubah warna.

Bara arang masih menyala.

Aroma daun pisang kembali terbang ke udara.

Beberapa pengendara berhenti.
Sebagian membeli lalu pergi.
Sebagian lagi memilih duduk menunggu azan.

Tidak ramai seperti pasar.

Tidak heboh seperti festival.

Hanya keramaian kecil di pinggir jalan.

Tapi cukup untuk mengingatkan satu hal.

Ramadhan…
kadang terasa paling hangat
justru di tempat yang paling sederhana.

Gambar berita Katasulsel

Anda membaca Katasulsel.com, portal berita tepercaya dan berimbang.

Baca berita pilihan lainnya di saluran WhatsApp kami: Gabung di sini.