📣 Ikuti saluran resmi WhatsApp kami sebelum membaca berita!

Join WhatsApp

SIDRAP, Katasulsel.com — Ulang tahun ke-682 bukan cuma tiup lilin.

Di Gedung DPRD, suasananya formal. Tapi isinya panas. Penuh angka. Penuh pesan politik pembangunan.

Di momen Hari Jadi Kabupaten Sidenreng Rappang, Senin (16/2/2026), “kado” besar turun dari provinsi. Nilainya Rp15 miliar.

Bantuan keuangan dari Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan.

Tidak berhenti di situ.
Satu unit combine harvester.
Satu unit traktor roda empat.
Nilainya Rp900 juta.

Tambah lagi hibah 16 unit bedah rumah dan bantuan lembaga keagamaan Rp770 juta. Plus buffer stock logistik bencana Rp251 juta lebih.

Totalnya? Paket komplet. Dari sawah sampai dapur bencana.

Penyerahan simbolis dilakukan langsung oleh Gubernur Sulsel Andi Sudirman Sulaiman, didampingi Wakil Gubernur Fatmawati Rusdi dan Ketua DPRD Sulsel Andi Rachmatika Dewi.

Diterima oleh Bupati Sidrap Syaharuddin Alrif dan Wakil Bupati Nurkanaah.

Tepuk tangan terdengar. Tapi yang lebih penting: angka-angka bicara.

Gubernur Andi Sudirman Sulaiman tidak pelit pujian.

“Bapak Bupati Sidrap merupakan sosok pemimpin yang mau bekerja dan terbukti menghadirkan banyak prestasi dan inovasi untuk masyarakat,” katanya.

Kalimat itu bukan basa-basi.

IPM Sidrap tembus 75,49 poin. Naik dari 74,81. Tertinggi dalam tujuh tahun terakhir.
BPJS Kesehatan? 99 persen warga sudah ter-cover.

Kemiskinan? Turun ke 4,91 persen. Terendah di Sulsel.

Pertumbuhan ekonomi triwulan III? 8,02 persen. Tertinggi dari 24 kabupaten/kota di Sulsel.

Ini bukan angka kecil. Ini angka “nendang”.
Mesin utamanya tetap satu: pertanian.
Produksi gabah kering panen tembus 679.772 ton. Nilainya Rp4,6 triliun. Naik signifikan. Produksi beras melonjak 27,21 persen. Telur menembus 53 juta kilogram dengan nilai Rp1,4 triliun.

Tema hari jadi tahun ini pun tegas: Tanam Panen Hilirisasi untuk Sidrap Maju dan Sejahtera. Bukan sekadar jargon. Tapi arah.

Gubernur juga menyinggung gerakan ASRI. Soal sampah yang masih jadi PR besar. Ia mendorong proyek multiyears untuk infrastruktur, terutama jalan. Artinya, jangan tambal sulam. Harus tuntas.
Sementara itu, Syaharuddin Alrif tidak banyak retorika. Ia memilih bicara data. Bicara capaian. Bicara tren positif satu tahun terakhir.

Pesannya sederhana: Sidrap tidak jalan di tempat.

Di usia 682 tahun, Bumi Nene Mallomo ini tidak sedang nostalgia. Ia sedang konsolidasi kekuatan.

Dari sawah ke hilir. Dari angka ke kesejahteraan.

Rp15 miliar itu mungkin hanya angka di atas kertas.

Tapi kalau dikelola dengan ritme yang sama seperti setahun terakhir, Sidrap bisa makin kencang.

Ulang tahun kali ini bukan selebrasi biasa.
Ini pengisian bahan bakar untuk lari lebih jauh. (*)