Tipue Sultan — Sulsel Editor
Redaktur Katasulsel.com, mengawal isu publik dan pembangunan daerah
Artikel: 514 Lihat semua

Lagi “naik daun” sebagai pengacara. Cerdas. Begitu teman saya, Andi Kute dan Pak Tahang menilainya.

Oleh: Tipue Sultan

Pagi itu, saya sengaja mampir ke kantor HBD & PARTNERS. Alamatnya di Maros. Waktu itu, kebetulan saya ke Makassar.

Pintu kaca terbuka, dan di sana, Herwandy Baharuddin sedang menata tumpukan berkas yang tampaknya tidak akan habis sampai sore.

Tapi anehnya, ia tampak tenang. Tidak tergesa-gesa. Tidak panik. Hanya senyum tipis, seperti orang yang sudah tahu, “Ini pekerjaan saya. Akan selesai.”

Herwandy, 36 tahun, lahir di Pangkajene, Sidrap.

Orang tua tidak kaya, tapi disiplin mereka menular.

Dari SD Negeri 14 Pangkajene sampai S2 Hukum di Universitas Indonesia Timur (UIT) Makassar, jalannya lurus saja: belajar, kerja keras, belajar lagi.

Tidak ada cerita glamour dalam hidupnya. Istilah saya, orang santai, hidupnya tidak ada drama. Hanya ketekunan.

“Saya dulu sering dibentak guru kalau main-main di kelas,” katanya sambil tersenyum. “Tapi saya belajar satu hal: disiplin itu membentuk karakter.”

Namanya sekarang mulai dikenal. Di ruang sidang, ia tegas. Di meja klien, ia sabar.

Di antara rekan kerja, ia selalu rendah hati.

“Herwandy itu… unik,” kata seorang rekan, Ichsan, juga pengacara muda di Sidrap.

“Bisa serius banget, tapi sesekali tiba-tiba bercanda, bikin suasana ringan.”

Salah satu yang membuatnya unik: Herwandy sangat suka tersenyum. Tidak selebar iklan sabun, tapi cukup untuk membuat orang merasa nyaman.

Bahkan saat menghadapi kasus kompleks, ketika klien gelisah

dan berkas menumpuk, ia tetap tersenyum. Itu seolah mengatakan, “Tenang. Semua ada jalannya.”

Ia juga jago teknologi. Laptop selalu terbuka, dokumen tertata rapi, riset hukum online dijalankan dengan cekatan.

Tapi Herwandy bukan tipe advokat yang mengunci diri di balik layar.
Setiap ada kesempatan, ia mengajar. Seminar, pelatihan hukum, konseling masyarakat. Advokat sekaligus guru, tanpa pamrih.

Di luar kantor, ia sederhana.

Tubuh atletis—tinggi 173 cm, berat 76 kg—tapi bukan untuk pamer. Energi itu untuk menghadapi sidang panjang, menelusuri regulasi, atau sekadar menyalami klien satu per satu.

Ia seorang suami yang setia, tetap menjaga akar budaya Bugis, tetap rendah hati.

Yang paling saya tahu, dari Herwandy? Caranya membuat hal serius jadi hangat.

Saya pernah lihat, seorang klien panik karena dokumen hilang. Herwandy masuk, senyum tipis, duduk di sampingnya, dan berkata:

“Tenang, kita cari bersama. Kalau dokumen itu bisa bicara, pasti dia sudah lari ke sini.”

Klien tertawa. Suasana tegang mencair. Itu kekuatan seorang advokat muda: tidak hanya hukum, tapi kemanusiaan.

Di mata masyarakat Sulsel—Sidrap, Maros, dan Makassar — Herwandy Baharuddin bukan hanya advokat yang profesional dan berdedikasi.

Ia simbol bahwa kerja keras, pendidikan matang, dan kepedulian sosial bisa bersatu. Dan ia membuktikannya dengan senyum, tutur kata lembut, dan sikap rendah hati.

Herwandy Baharuddin sedang naik daun. Tapi ia tetap seperti dulu: sederhana, sopan, dan selalu tersenyum.(*)

Gambar berita Katasulsel

Anda membaca Katasulsel.com, portal berita tepercaya dan berimbang.

Baca berita pilihan lainnya di saluran WhatsApp kami: Gabung di sini.