ENREKANG, katasulsel.com — Bukan meja makan yang bikin tamu bertahan lama di Rumah Jabatan Bupati Enrekang, lebaran kali ini.
Bukan juga deretan hidangan mewah.
Yang bikin orang betah… justru senyum.
Senyum Bupati H. Muh. Yusuf Ritangnga.
Senyum sang istri.
Senyum yang tidak dibuat-buat.
Dan itu terasa.
Biasanya, Rumah Jabatan Bupati riuh saat lebaran. Padat. Sesak. Orang datang, salaman, lalu cepat pergi.
Tahun ini… tidak.
Lebih tenang. Lebih pelan. Bahkan cenderung sunyi. Tapi hangatnya—justru lebih terasa.
Usai Salat Idul Fitri 1447 H, tamu tetap datang. Tidak berbondong-bondong. Tidak bersamaan. Datang bergelombang. Satu-satu.
Dan setiap yang datang… disambut.
Bukan sekadar disalami. Tapi disapa. Ditatap. Diberi ruang untuk duduk. Untuk berbincang.
Seorang tamu menyalami Bupati, lalu duduk agak lama. Tidak ada yang mendorong dari belakang. Tidak ada yang menyuruh cepat.
“Silakan duduk dulu,” kata Bupati, sambil tersenyum.
Senyum itu sederhana. Tapi membuat orang enggan cepat pulang.
Di dalam rumah, meja makan tidak penuh kemewahan. Tidak ada menu “wah”.
Yang ada… bakso hangat, ketupat, rendang, burasa, lappa-lappa, kue lebaran.
Sederhana. Sangat sederhana.
Tapi anehnya… cukup.
Seorang ibu mengambil sedikit makanan, lalu duduk. Ia tersenyum kecil, “Tidak banyak, tapi enak… lebih terasa.”
Di dekatnya, seorang bapak tua menikmati bakso perlahan. Tidak buru-buru. Tidak gelisah.
“Biasanya capek kalau ramai sekali. Sekarang santai… bisa makan, bisa ngobrol,” katanya.
Di teras rumah, Wakil Bupati Andi Tenri Liwang La Tinro juga melakukan hal yang sama. Menyambut. Menyalami. Menatap tamu satu per satu.
Tidak sekadar formalitas.
Ada percakapan kecil. Ada tanya kabar. Ada jeda yang tidak dipotong.
Interaksi yang sederhana. Tapi justru itu yang jarang terjadi saat acara besar.
Keputusan tidak membuat open house mewah memang terasa. Tidak ada tenda besar. Tidak ada hiruk-pikuk.
Semua seperti diturunkan volumenya.
Tapi di situlah letak “rasa”-nya.


