“Bukan soal mengurangi tradisi. Tapi menyesuaikan rasa,” ujar Bupati Yusuf, singkat.
Dan hari itu… rasa itu benar-benar terasa.
Anak-anak tetap bermain di halaman. Tidak gaduh. Tidak liar. Seolah ikut menjaga suasana.
Orang datang, duduk, makan, berbincang. Tidak tergesa.
Waktu berjalan pelan. Dari pagi. Siang. Sampai malam.
Tidak ramai berlebihan. Tapi tidak juga sepi.
Yang ada… kenyamanan.
Di Enrekang, lebaran kali ini seperti mengajarkan sesuatu yang sederhana:
Bahwa tamu tidak selalu betah karena hidangan.
Kadang… karena cara kita menyambutnya.
Karena senyum.
Karena perhatian kecil.
Karena rasa dihargai.
Di rumah jabatan itu, tidak ada yang berlebihan.
Hidangannya sederhana.
Tapi senyumnya… cukup untuk membuat orang ingin tinggal lebih lama.
Dan itu, mungkin, makna lebaran yang sebenarnya. (*)


