📣 Ikuti saluran resmi WhatsApp kami sebelum membaca berita!

Join WhatsApp

Sidrap, Katasulsel.com — Di tengah riuh rendah politik, hiruk-pikuk media sosial, serta derasnya arus informasi yang tak selalu jernih, pers tetap berdiri sebagai penanda arah. Pena—atau kini layar—menjadi penimbang antara fakta dan tafsir. Di titik itulah, Hari Pers Nasional (HPN) setiap 9 Februari menemukan maknanya.

Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai NasDem Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap), Samsumarlin, menaruh hormat pada peran tersebut. Ia menyampaikan ucapan selamat kepada seluruh insan pers yang selama ini konsisten menjaga marwah jurnalistik di tengah tantangan zaman yang kian kompleks.

Menurut Samsumarlin, pers bukan sekadar penyampai kabar. Ia adalah pengingat. Ia adalah cermin. Kadang juga alarm yang membangunkan publik ketika kekuasaan mulai terlena. Dalam lanskap demokrasi, pers memegang peran strategis—membangun kesadaran publik, menjaga ruang diskusi tetap sehat, sekaligus mengawasi jalannya pemerintahan agar tetap berada di rel transparansi dan akuntabilitas.
“Selamat Hari Pers Nasional,” ujar Samsumarlin, Senin (9/2/2026).

Kalimatnya singkat, tapi pesannya panjang. Ia berharap insan pers terus menjunjung tinggi kode etik jurnalistik, menjaga independensi, dan tidak tergoda oleh kepentingan sesaat yang bisa mengaburkan fakta.

Di era klik dan viral, tantangan pers memang bukan makin ringan. Kecepatan sering kali mengalahkan ketepatan. Opini kerap menyaru sebagai berita. Di sinilah, kata Samsumarlin, pers dituntut tetap menjadi penjaga nalar publik—menghadirkan informasi yang akurat, berimbang, dan edukatif.

Bagi Samsumarlin, pers dan demokrasi ibarat dua sisi mata uang. Tak bisa dipisahkan. Ketika pers sehat, demokrasi punya harapan. Ketika pers kritis namun beretika, pemerintahan akan belajar untuk lebih jujur pada rakyatnya.

Hari Pers Nasional, bagi dia, bukan sekadar seremoni tahunan. Ia adalah momentum refleksi—bagi insan pers untuk terus menjaga integritas, dan bagi para pemangku kepentingan untuk menghormati kerja jurnalistik sebagai bagian penting dari kehidupan berbangsa.
Di Sidrap dan di mana pun pers bekerja, pena tetap punya kuasa. Asal tak dijual murah (*)