Makassar, katasulsel.com — Pertukaran dosen, kolaborasi riset, hingga program pengabdian masyarakat lintas wilayah langsung menjadi menu utama dalam pertemuan antara IAI Rawa Aopa Konawe Selatan dan FISIP Universitas Bosowa.

Bukan lagi diskusi normatif, forum Focus Group Discussion (FGD) yang digelar di Gedung Rektorat Universitas Bosowa, Jumat (10/4/2026), langsung membedah program konkret yang bisa dieksekusi dalam waktu dekat.

Sejak awal pertemuan, arah pembicaraan sudah jelas: bagaimana kolaborasi ini bisa “langsung jalan” dan terasa dampaknya. Tidak ada ruang untuk kerja sama yang hanya berhenti di dokumen.

Wakil Rektor IAI Rawa Aopa, Ismail Suardi Wekke, menegaskan bahwa kampusnya sedang mengejar percepatan kualitas. Cara paling realistis, kata dia, adalah membuka diri dan belajar dari kampus yang lebih berpengalaman.

“Kita tidak mau kerja sama yang hanya bagus di atas kertas. Yang kita kejar itu implementasi,” ujarnya.

Program pertukaran dosen menjadi salah satu poin paling konkret. Skema ini dirancang sebagai jalur cepat untuk transfer ilmu dan pengalaman mengajar. Dosen tidak hanya berbagi materi, tetapi juga metode, pendekatan, hingga kultur akademik.

Di sisi lain, kolaborasi riset diarahkan agar tidak lagi “ngawang”. Kedua kampus sepakat penelitian harus menyentuh persoalan nyata masyarakat—mulai dari isu sosial, pembangunan daerah, hingga penguatan ekonomi lokal.

Istilahnya, riset tidak boleh hanya berhenti di jurnal, tapi harus punya “dampak turun ke bawah”.

Program pengabdian masyarakat juga didorong naik level. Tidak lagi sekadar kegiatan simbolik, tetapi dirancang lintas wilayah bahkan lintas provinsi. Harapannya, kampus benar-benar hadir sebagai solusi, bukan hanya pengamat.

Dari sisi analisis, pola ini menunjukkan pergeseran penting dalam dunia pendidikan tinggi. Kampus mulai meninggalkan pendekatan lama yang serba administratif, menuju model kolaborasi berbasis output.

IAI Rawa Aopa terlihat ingin “lompat cepat”, bukan berjalan pelan. Sementara FISIP Unibos memainkan peran sebagai mitra yang membuka akses pengalaman dan sistem yang sudah lebih matang.

Kolaborasi ini menjadi semacam simbiosis: satu mengejar akselerasi, satu memperluas pengaruh akademik.

Draf kerja sama teknis kini tengah disiapkan. Targetnya bukan sekadar penandatanganan, tetapi memastikan semua program—dari pertukaran dosen, riset bersama, hingga pengabdian lintas wilayah—benar-benar berjalan dan terukur.

Jika konsisten, model seperti ini bisa jadi contoh baru bahwa kerja sama kampus bukan lagi seremoni, tapi strategi nyata untuk mengejar kualitas dan relevansi di tengah persaingan global. (*)

Gambar berita Katasulsel