📣 Ikuti saluran resmi WhatsApp kami sebelum membaca berita!

Join WhatsApp

Oleh: Syamsuddin S

Di Sidrap, politik tak lagi hanya soal baliho dan seremoni. Ia menjelma menjadi angka. Dan angka itu bernama IPM: 75,49.

Angka yang tidak sekadar statistik. Ia adalah cermin kualitas hidup. Ia adalah wajah pendidikan, derajat kesehatan, dan standar hidup masyarakat. Dan di tahun pertama kepemimpinan Bupati SAR dalam rezim yang kerap disebut publik sebagai “SARkanaah”, angka itu melonjak 0,68 poin. Di Sulawesi Selatan, Sidrap kini duduk di peringkat ke-7 dari 24 kabupaten/kota. Bukan posisi medioker. Ini papan atas.

Di sinilah refleksi satu tahun itu menemukan konteksnya.

Ada suasana yang berbeda di ruang publik Sidrap. Euforia tak dibuat-buat, tapi juga bukan kosong substansi. Pelantikan dan pengambilan sumpah pejabat yang digelar terbuka di halaman Pasar Tanru Tedong menjadi simbol yang tak bisa diabaikan. Politik birokrasi dibawa ke jantung ekonomi rakyat.

Pesannya jelas: konsolidasi pemerintahan bukan dilakukan di ruang ber-AC, tapi di tengah denyut masyarakat.

Langkah itu menandai fase konsolidasi kelembagaan yang lebih matang. Tidak lagi sekadar membagi kursi, melainkan menyusun orkestrasi. Bupati SAR tampaknya sadar, tanpa mesin birokrasi yang solid, visi besar hanya akan jadi power point indah tanpa realisasi.

Momentum pergantian tahun 2026 pun menjadi panggung optimisme. Pernyataan Bupati SAR saat menyambut tahun baru bukan retorika basa-basi: capaian positif 2025 akan ditingkatkan, kekurangan diperbaiki, perencanaan dioptimalkan. Kalimat itu sederhana. Tapi dalam bahasa kepemimpinan, itu adalah statement of direction.

Tahun 2026 disebut sebagai tahun optimalisasi. Dan optimalisasi selalu lebih berat daripada inisiasi. Kalau tahun pertama adalah membangun fondasi, tahun kedua adalah menguji daya tahan.

Namun, mari kita bicara substansi. Apa yang membuat IPM 75,49 itu penting?

IPM berdiri di atas tiga pilar: pendidikan, kesehatan, dan standar hidup layak. Kenaikan 0,68 poin bukan angka kecil. Itu berarti ada perbaikan di perkiraan lama sekolah, rata-rata lama sekolah, harapan hidup, hingga daya beli masyarakat.

Bahasa populernya: kualitas hidup warga Sidrap naik kelas.

Dalam konteks Sulawesi Selatan yang kompetitif, posisi ke-7 adalah entry point menuju papan elite. Jika tren ini dijaga, bukan mustahil Sidrap menembus tiga besar. Dan di sinilah Bupati SAR memainkan narasi “Sidrap Maju dan Sejahtera” bukan sebagai slogan, tetapi sebagai target terukur.

Yang menarik, capaian IPM ini lahir di tahun pertama. Tahun yang biasanya diwarnai adaptasi politik, penyesuaian birokrasi, dan konsolidasi internal. Tapi SARkanaah justru memanfaatkan fase itu sebagai momentum akselerasi.

Ini bukan perkara kebetulan. Ini soal political will.

Tentu, jalan menuju 2026 tidak steril dari tantangan. Konsolidasi pemerintahan harus terus diperkuat. Soliditas bukan hanya soal loyalitas, tetapi orientasi kinerja. Jika birokrasi tidak bergerak dengan ritme yang sama, maka target hanya akan menjadi wacana.

Di sisi lain, antusiasme publik juga harus dirawat. Kegembiraan warga adalah social capital. Ia bisa menjadi energi pembangunan, tetapi juga bisa menguap jika ekspektasi tak dikelola.

Di sinilah kepemimpinan diuji: menjaga optimisme tanpa terjebak euforia.

Bupati SAR memiliki modal sosial yang relatif kuat. Basis dukungan yang solid memberi ruang manuver lebih leluasa. Namun modal sosial hanya bernilai jika dikonversi menjadi kebijakan yang menyentuh kebutuhan riil masyarakat.

IPM yang melaju adalah indikator bahwa konversi itu mulai bekerja.

Sidrap hari ini berada di persimpangan: mempertahankan tren positif atau terjebak dalam zona nyaman. Politik akselerasi harus terus dijaga. Reformulasi kebijakan pendidikan, penguatan layanan kesehatan, dan pengembangan ekonomi rakyat menjadi kunci agar IPM tidak stagnan.

Karena dalam pembangunan, stagnasi adalah kemunduran terselubung.

Refleksi satu tahun SARkanaah bukan tentang seremoni atau tepuk tangan. Ia tentang konsistensi. Tentang bagaimana angka 75,49 itu dijadikan pijakan untuk menembus angka yang lebih tinggi. Tentang bagaimana Sidrap tidak hanya naik peringkat, tetapi benar-benar naik kualitas.

Jika tahun pertama adalah bab pembuka, maka 2026 adalah bab pembuktian.

Publik Sidrap kini menunggu: apakah akselerasi ini akan terus melaju atau melambat? Apakah optimisme akan menjadi kenyataan atau sekadar narasi?

Satu hal yang pasti, IPM 75,49 telah menjadi milestone. Dan dari titik itulah sejarah kepemimpinan SARkanaah akan dinilai.

Sidrap tidak lagi sekadar bergerak. Ia sedang menanjak.(*)