Jakarta — Sabtu (28/2/2026) menjadi hari yang akan dikenang bagi kawasan Timur Tengah. Langit Teheran dipenuhi sirene dan ledakan, sementara di Bahrain, Kuwait, Qatar, dan Uni Emirat Arab (UEA), warga berlari mencari perlindungan. Semua ini akibat serangan balasan Iran terhadap gempuran besar gabungan AS dan Israel yang menarget fasilitas strategis Iran beberapa jam sebelumnya.
“Operasi ini akan terus berlanjut sampai musuh benar-benar dikalahkan,” tegas Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC).
Timeline Serangan dan Balasan
Pukul 09:30 Teheran (13.00 WIB): ledakan terdengar di Teheran, Isfahan, Qom, Karaj, dan Kermanshah. Kantor Pemimpin Tertinggi Iran dan kantor kepresidenan menjadi sasaran. Warga panik, berlarian, mencari tempat aman.
Pukul 10:00–12:00: rudal Iran menembus wilayah udara Bahrain, Qatar, Kuwait, dan UEA. Beberapa rudal berhasil dicegat sistem pertahanan Patriot, tapi satu korban tewas tercatat di Abu Dhabi.
Pukul 12:30: Israel mengaktifkan Komando Pertahanan Dalam Negeri. Sirene meraung di Tel Aviv, Haifa, dan Jerusalem. Pangkalan militer diperkuat pasukan, helikopter bergerak padat menandai kesiagaan penuh.
Pukul 13:00: GCC menutup wilayah udara sebagian besar negara anggota. Qatar, Kuwait, dan UEA menghentikan penerbangan sipil. Oman tetap aman—negara ini sejak lama menjadi mediator diplomatik Iran dan AS.
Pukul 14:00: Media global menyiarkan video warga berlari, tangis anak-anak, dan asap membubung di pusat kota Teheran. Rekaman warga di media sosial memperlihatkan kepanikan, namun sebagian juga menyoroti “balasan yang sudah lama dinantikan” terhadap intervensi asing.
Lokasi Rudal dan Target
- Iran: rudal diluncurkan dari Teheran, Isfahan, Qom, Karaj, Kermanshah, dan pangkalan militer di Kamyaran (Kurdistan).
- Bahrain: markas Armada Kelima Angkatan Laut AS.
- Kuwait: markas Komando Pusat AS.
- Qatar: pangkalan udara Al-Udeid, pangkalan militer AS terbesar di Teluk.
- UEA: Abu Dhabi, pangkalan udara militer AS.
Menurut IRGC, semua aset militer AS dan Israel di Timur Tengah adalah target sah.
Respons Israel dan AS
Israel Defense Forces (IDF) menyatakan telah mengidentifikasi rudal yang datang dari Iran dan mencegat sebagian besar. Peringatan diberikan kepada warga untuk tetap berada di tempat aman. Aktivitas militer meningkat, pasukan ditempatkan di sepanjang perbatasan, dan lalu lintas helikopter terlihat padat di atas Israel.
Sementara itu, Presiden AS Donald Trump mengumumkan telah meluncurkan “operasi tempur besar-besaran” dengan tujuan menghancurkan fasilitas nuklir Iran dan mengakhiri ancaman rudal jarak jauh yang dapat menjangkau sekutu AS. Trump bahkan menyerukan warga Iran untuk “mengambil alih pemerintahan kalian” pasca-serangan.
Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, mendukung operasi ini dengan menyatakan target utama adalah “menyingkirkan rezim teroris di Iran” dan membebaskan kelompok masyarakat yang tertindas di Iran.
Diplomasi Indonesia
Indonesia, melalui Kementerian Luar Negeri, menyerukan semua pihak menahan diri dan mengedepankan dialog. Presiden Prabowo Subianto menawarkan diri memfasilitasi mediasi: “Apabila disetujui kedua belah pihak, Presiden Indonesia bersedia bertolak ke Teheran untuk mengupayakan kondisi keamanan yang kondusif.”
Kemlu juga mengimbau Warga Negara Indonesia (WNI) di kawasan terdampak untuk tetap tenang, waspada, dan mengikuti arahan otoritas setempat.
Reaksi Warga dan Dampak Sosial
Di Teheran, warga berlarian mencari perlindungan, ada yang menangis, sebagian menyambut balasan rudal dengan lega. Media sosial dipenuhi video kepanikan, namun juga komentar warga yang menilai ini sebagai “kesempatan satu-satunya” untuk menggulingkan rezim.
Di Teluk Arab, sirene meraung di Bahrain, Kuwait, Qatar, dan UEA. Sekolah ditutup, penerbangan sipil dihentikan, dan masyarakat diimbau tetap di rumah. Qatar, Oman, dan negara anggota GCC lainnya kini berada dalam status darurat parsial.
“Dari sudut pandang Iran, karena AS dan Israel menyerang lebih dulu, semua aset militer di kawasan dianggap sah sebagai target balasan,” ujar analis geopolitik di Doha.
Sabtu (28/2/2026) ini menegaskan betapa rapuhnya stabilitas Timur Tengah. Dari Teheran hingga Teluk Arab, dunia menyaksikan rudal dan sirene, warga panik, dan diplomasi internasional diuji. Iran, AS, Israel, dan GCC kini dalam pusaran ketegangan yang bisa menentukan arah geopolitik global. (*)

Tinggalkan Balasan