📣 Ikuti saluran resmi WhatsApp kami sebelum membaca berita!

Join WhatsApp

Wajo, katasulsel.com — Isu likuifaksi memang selalu terdengar menyeramkan. Tanah yang tiba-tiba “mencair”, bangunan amblas, dan kepanikan massal. Wajar jika kata itu langsung membuat warga Wajo gelisah ketika aktivitas seismik 3D berlangsung di kawasan Tosora. Apalagi isu itu menyebar cepat—lebih cepat dari penjelasan ilmiah.

Namun di titik inilah ilmu pengetahuan harus bicara. Dan Universitas Hasanuddin memilih turun langsung ke lokasi.
Pakar Geofisika UNHAS, Dr. Muhammad Taufiq Rafie, akhirnya buka suara. Bukan dari ruang kuliah. Bukan dari balik meja. Tapi langsung di lapangan, di tengah lokasi survei seismik 3D Tosora. Pesannya tegas: tidak ada likuifaksi di sini.

“Likuifaksi tidak terjadi hanya karena ada getaran. Ia butuh gempa tektonik besar, berlangsung lama, berulang, dan terjadi pada tanah tertentu yang jenuh air,” jelasnya. Getaran seismik 3D, kata dia, berada di kelas yang sama sekali berbeda. Terukur. Terkendali. Singkat. Jauh dari karakter gempa bumi.

Penjelasan ini penting, karena selama beberapa hari terakhir, istilah “tanah mencair” terlanjur bergulir liar. Padahal, seismik 3D bukan eksperimen dadakan. Ini metode ilmiah yang sudah puluhan tahun dipakai untuk memetakan struktur bawah tanah, terutama dalam eksplorasi migas. Getarannya bukan ledakan bebas, melainkan sinyal energi yang dikontrol ketat.

Kunjungan UNHAS ke Tosora juga bukan sekadar klarifikasi. Puluhan mahasiswa geofisika ikut menyaksikan langsung bagaimana survei seismik dilakukan—dari proses perekaman data di lapangan hingga pengolahan awal di mobil laboratorium. Semua diawasi dengan standar keselamatan dan kontrol kualitas.

Di titik ini, publik sebenarnya dihadapkan pada dua pilihan: percaya pada rumor, atau pada penjelasan ilmiah. Dr. Taufiq memilih jalur yang jarang ditempuh—menemui langsung keresahan warga, bukan menunggu isu reda dengan sendirinya.

Ia juga menekankan bahwa kekhawatiran masyarakat harus dipahami, bukan ditertawakan. Namun ketakutan, kata dia, tak boleh dibiarkan tumbuh tanpa dasar. Ketika istilah ilmiah dipakai sembarangan, yang lahir bukan kewaspadaan, melainkan kepanikan.

Pihak pelaksana survei seismik 3D pun menyatakan aktivitas dilakukan sesuai prosedur dan pengawasan. Tidak ada tahapan yang dijalankan di luar standar teknis.

Bahkan, keterlibatan akademisi justru menjadi lapisan pengaman tambahan—agar kegiatan lapangan tetap transparan dan bisa diuji secara ilmiah.

Isu likuifaksi di Wajo akhirnya menemukan konteksnya. Tanah tidak mencair. Yang sempat mencair justru informasi—bercampur antara asumsi, kekhawatiran, dan potongan fakta yang tak utuh.
Dan di tengah kebisingan itu, penjelasan ilmiah kembali menjalankan fungsinya yang paling dasar: menenangkan, bukan menakut-nakuti.

Di Tosora, survei tetap berjalan. Tanah tetap di tempatnya. Dan publik, semoga, pulang dengan satu pelajaran: tidak setiap getaran adalah bencana. Kadang, itu hanya ilmu yang sedang bekerja. (*)