Syaharuddin Alrif menempuh jalan panjang di NasDem Sulsel, dari kader pendiri hingga kini dipercaya sebagai Ketua DPW.

Oleh: Edy Basri

Keputusan Partai NasDem mempercayakan tampuk kepemimpinan Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Sulawesi Selatan kepada Syaharuddin Alrif bukanlah hasil dari dinamika sesaat, apalagi kompromi dadakan. Ia adalah akumulasi sejarah panjang, kerja politik yang konsisten, dan proses kaderisasi yang ditempa waktu. Dalam lanskap politik yang kerap dipenuhi figur instan, Syahar tampil sebagai pengecualian: lahir dari dapur organisasi, tumbuh dalam disiplin struktural, dan naik ke puncak melalui politik ketekunan.

Pergantian kepemimpinan dari Rusdi Masse Mappasessu (RMS) kepada Syaharuddin Alrif sekaligus menandai fase transisi penting bagi NasDem Sulsel. Jika RMS selama satu dekade terakhir dikenal sebagai figur sentral, simbol kekuatan elektoral, dan magnet politik, maka Syahar hadir sebagai penjaga kesinambungan, representasi stabilitas, dan wajah regenerasi internal partai.

Syahar bukan nama baru di NasDem. Ia adalah kader organik, bagian dari generasi awal yang ikut menanam fondasi partai sejak masa embrional. Sejak NasDem mulai berakar di Sulawesi Selatan, Syahar berada di lingkar inti pergerakan. Ia menyaksikan langsung proses pembentukan struktur, konsolidasi ideologi restorasi, hingga kerja-kerja elektoral yang mengantar NasDem menjadi pemenang Pemilu 2024 di Sulsel.

Latar belakang Syahar kerap disebut mencerminkan tipologi kader ideal NasDem. Ia adalah petani, yang memahami denyut ekonomi akar rumput. Ia seorang aktivis, yang ditempa dalam dialektika gagasan dan gerakan. Ia juga pengusaha, yang terbiasa dengan manajemen risiko dan kalkulasi rasional. Di atas itu semua, Syahar adalah anak santri, tumbuh dalam tradisi nilai, etika, dan disiplin moral. Kombinasi ini membentuk karakter politik yang membumi, tenang, dan tidak reaktif.

Dalam perjalanan organisasinya, Syahar menapaki tangga kepemimpinan NasDem secara bertahap. Pada periode 2012–2013, ia dipercaya sebagai Wakil Bendahara DPW NasDem Sulsel, sebuah posisi strategis di fase awal pembentukan partai. Peran ini tidak sekadar administratif, melainkan memastikan denyut organisasi tetap berjalan di tengah keterbatasan sumber daya dan tantangan konsolidasi.

Memasuki periode 2014–2016, Syahar bergeser ke posisi Wakil Sekretaris Bidang Pemenangan Pemilu. Di fase ini, NasDem Sulsel mulai memasuki medan tempur elektoral yang sesungguhnya. Syahar terlibat langsung dalam perencanaan strategi pemenangan, pemetaan daerah pemilihan, hingga kerja-kerja senyap membangun jaringan kader di tingkat kabupaten dan kecamatan. Inilah fase ketika ia mulai dikenal sebagai arsitek lapangan, bukan sekadar pengurus struktural.

Tonggak penting berikutnya terjadi pada 2016, ketika Syahar dipercaya menjadi Sekretaris DPW NasDem Sulsel, posisi yang diembannya hingga 2026. Selama satu dekade, ia menjadi poros administrasi dan koordinasi, penghubung antara kepemimpinan politik RMS dengan mesin organisasi di bawah. Dalam banyak hal, Syahar adalah penjaga ritme, memastikan keputusan politik dapat diterjemahkan menjadi kerja struktural yang efektif.

Selama 10 tahun mendampingi RMS, Syahar berada di ruang-ruang strategis pengambilan keputusan. Ia menyaksikan langsung bagaimana NasDem Sulsel membangun hegemoni elektoral, mengelola koalisi, hingga memenangkan kontestasi politik dengan pendekatan kombinatif antara figur dan struktur. Hubungan kerja Syahar dan RMS bukan sekadar relasi ketua-sekretaris, melainkan kemitraan politik jangka panjang yang saling melengkapi.

Tak berlebihan jika dikatakan, sebagian stabilitas NasDem Sulsel dalam satu dekade terakhir bertumpu pada kerja-kerja sunyi sekretariat yang dipimpin Syahar. Di tengah politik yang sering gemerlap di panggung depan, Syahar memilih bekerja di balik layar, merawat organisasi, menjaga komunikasi kader, dan memastikan disiplin struktur tetap terjaga.

Penunjukan Syahar sebagai Ketua DPW NasDem Sulsel periode 2026–2029 dengan demikian adalah kelanjutan logis, bukan lompatan politis. Ia adalah produk kaderisasi internal, bukan figur impor. Dalam bahasa politik, ini adalah suksesi terkelola, bukan pergantian koersif.

Tantangan yang dihadapi Syahar tentu tidak ringan. Ia mengambil alih kepemimpinan di tengah perubahan konstelasi politik, termasuk hengkangnya RMS yang selama ini menjadi episentrum kekuatan NasDem Sulsel. Dalam konteks ini, Syahar memikul dua beban sekaligus: menjaga stabilitas internal dan membangun otoritas kepemimpinan baru.

Namun, keunggulan Syahar terletak pada legitimasi struktural. Ia dikenal hampir di seluruh tingkatan organisasi, dari DPW hingga DPD. Jaringan personalnya terbangun melalui kerja panjang, bukan relasi transaksional. Dalam politik organisasi, ini adalah modal yang tak ternilai: kepercayaan kader.

Sebagai Ketua DPW, Syahar dihadapkan pada agenda besar konsolidasi pasca-transisi. Ia dituntut memastikan tidak terjadi fragmentasi internal, menjaga loyalitas kader, dan menguatkan mesin partai menghadapi kontestasi ke depan. Dalam istilah politik, inilah fase defensive consolidation—mengamankan basis sebelum melangkah ofensif.

Di sisi lain, Syahar juga dituntut membawa NasDem Sulsel memasuki fase regenerasi figur. Era ketergantungan pada satu tokoh harus diakhiri dengan melahirkan banyak pusat kekuatan baru. Dalam hal ini, latar belakang Syahar sebagai organisator memberi harapan: ia memahami pentingnya distribusi peran dan desentralisasi kepemimpinan.

Citra Syahar sebagai petani dan anak santri memberi nilai tambah di tengah politik yang semakin elitis. Ia merepresentasikan politik keseharian, bukan politik menara gading. Ini penting di Sulawesi Selatan, di mana kedekatan kultural dan etika personal masih menjadi faktor signifikan dalam membangun kepercayaan publik.

Bagi NasDem secara nasional, Sulsel adalah wilayah strategis. Keberhasilan Syahar menjaga dan memperluas kekuatan partai di daerah ini akan menjadi indikator penting efektivitas regenerasi internal NasDem. Dengan kata lain, kepemimpinan Syahar bukan hanya urusan regional, tetapi juga ujian model kaderisasi NasDem.

Pada akhirnya, politik adalah tentang ketahanan organisasi. Figur datang dan pergi, tetapi partai yang matang adalah partai yang mampu bertahan melalui transisi. Dalam konteks ini, Syaharuddin Alrif hadir sebagai penjaga kesinambungan, figur yang mungkin tidak gemerlap, tetapi krusial.

Waktu akan menguji sejauh mana Syahar mampu mengonsolidasikan kekuatan, membangun otoritas, dan membawa NasDem Sulsel melampaui bayang-bayang masa lalu. Namun satu hal sudah pasti: kepemimpinannya adalah hasil dari jalan panjang, kerja senyap, dan kesetiaan struktural.

Dalam politik yang kerap gaduh oleh ambisi personal, kisah Syahar adalah pengingat bahwa kesabaran, loyalitas, dan kerja organisasi masih memiliki tempat. Dan di Sulawesi Selatan, NasDem kini memasuki babak baru—dengan Syaharuddin Alrif sebagai nahkoda yang lahir dari rahim partai itu sendiri.(*)