📣 Ikuti saluran resmi WhatsApp kami sebelum membaca berita!

Join WhatsApp

WAJO — Sore belum benar-benar gelap. Tapi Jl Sangkuru sudah padat. Lampu-lampu mulai menyala. Aroma kolak dan gorengan bercampur di udara. Anak muda, keluarga, sampai komunitas nongkrong tumpah ruah.

Inilah pasar kuliner Ramadhan yang diinisiasi oleh Pemerintah Kabupaten Wajo. Lokasinya di jantung Kota Sengkang, dalam wilayah Kabupaten Wajo.
Konsepnya simpel tapi ngena: ruang publik + UMKM + Ramadhan vibes.

Bupati Andi Rosman disebut jadi motor penggerak ide ini. Targetnya jelas—ngabuburit produktif. Ekonomi jalan. UMKM senyum. Warga happy.
Hasilnya? Auto ramai.

Deretan tenda kuliner berdiri rapi. Dari es pisang ijo, barongko, jalangkote, sampai minuman kekinian. Semua ada. Anak muda menyebutnya: “war takjil versi official.”

“Lebih tertata, enak juga jalan-jalan di sini,” kata Rahma (20), mahasiswa yang datang bareng teman-temannya. “Ngabuburit sambil jajan, terus bisa foto-foto. Lengkap.”

Tak cuma soal makan. Beberapa sudut dipenuhi kursi santai. Ada yang nongkrong, ada yang buka bareng keluarga. Suasananya mirip mini festival Ramadhan. Vibes-nya dapet. Estetik? Lumayan buat stok konten.

Bagi pelaku UMKM, ini momentum cuan maksimal. Sore jadi prime time. Pembeli datang silih berganti. Dagangan cepat ludes sebelum azan.

Langkah Pemkab Wajo ini dinilai jadi “middle ground” antara tradisi dan tren. Ramadhan tetap khusyuk, tapi ekonomi rakyat juga bergerak. Ruang publik hidup. Interaksi sosial tumbuh.

Menjelang Magrib, suasana mendadak hening. Semua fokus. Begitu azan berkumandang, tangan-tangan terangkat. Senyum pecah di antara lampu-lampu yang mulai terang.

Jl Sangkuru tak lagi sekadar jalan biasa.
Ia berubah jadi panggung senja Ramadhan Wajo.

Dan kalau tren ini konsisten, pasar kuliner Sangkuru bukan cuma euforia musiman. Tapi bisa jadi ikon baru Kota Sengkang setiap bulan puasa.

Di Wajo, ngabuburit kini tak cuma soal menunggu waktu.

Tapi tentang menghidupkan kota. (sose)