SIDRAP, Katasulsel.com — Akhir pekan di Bumi Nene Mallomo berubah jadi panggung besar hiburan rakyat.

Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap), Sulawesi Selatan, mendadak “hidup” dengan gelombang pengunjung yang datang dari berbagai daerah. Bukan ratusan, bukan pula ribuan kecil—sekitar 7.000 orang memadati berbagai titik kegiatan.

Suasananya seperti festival campur aduk: ada adrenalin, ada tawa, ada kompetisi, dan tentu saja—ada ekonomi yang ikut bergerak.

Balap mobil, balap motor, tembak jely, hingga lomba domino menjadi magnet utama. Semua kelas masyarakat melebur di satu ruang: penonton, peserta, hingga pelaku UMKM.

Ini bukan sekadar event. Ini sudah seperti “weekend economy festival”.

Bupati Sidrap, Syaharuddin Alrif, menyebut kegiatan seperti ini memberi efek domino bagi ekonomi daerah.

“Tentunya dengan adanya event-event ini, maka pertumbuhan ekonomi akan meningkat, membuat UMKM maju dan hotel penuh,” ujarnya, Sabtu, 11 April 2026.

Kalimat sederhana, tapi dampaknya terasa nyata di lapangan.

Warung makan ramai. Pedagang kecil kebanjiran pembeli. Hotel-hotel penuh. Bahkan area parkir pun ikut “over capacity”.

Dalam bahasa ekonomi populer, ini disebut local economic spillover—efek berantai dari satu kegiatan yang menggerakkan banyak sektor sekaligus.

Tapi di Sidrap, istilah itu terasa lebih membumi: “uang berputar di kampung sendiri”.

Para pelaku UMKM menjadi pihak yang paling merasakan dampaknya. Dari kuliner tradisional hingga jajanan kekinian, semuanya laku keras. Bahkan sebagian pedagang mengaku omzet naik signifikan hanya dalam hitungan jam.

Momentum ini juga memperkuat citra Sidrap sebagai daerah yang tidak hanya bergerak di sektor pertanian dan peternakan, tetapi juga mulai serius menggarap sektor event dan pariwisata lokal.

Karena hari ini, orang datang bukan hanya untuk bekerja atau berurusan. Tapi untuk “menikmati Sidrap”.

Dan itu penting.

Sebab di era sekarang, daerah yang hidup bukan hanya yang punya sumber daya—tapi yang punya daya tarik.

Dengan semakin seringnya event seperti ini digelar, Sidrap pelan-pelan sedang membangun identitas baru: bukan sekadar kabupaten, tapi “ruang pertemuan ekonomi dan hiburan rakyat”.

Dan akhir pekan itu, angka 7.000 bukan hanya statistik.

Itu adalah tanda: Sidrap sedang bergerak.(*)

Gambar berita Katasulsel