📣 Ikuti saluran resmi WhatsApp kami sebelum membaca berita!
Join WhatsAppMakassar, katasulsel.com — Pernyataan Ketua Umum Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Kaesang Pangarep, di Makassar yang teranyer, bukan sekadar gurauan politik anak muda.
Di balik candaan dan tepuk tangan kader, terselip sinyal kuat: PSI tengah memainkan strategi konsolidasi elite lokal di Sulawesi Selatan.
Dalam forum Pelantikan dan Rapat Koordinasi Wilayah PSI se-Sulsel-Sulbar di Hotel Claro, Rabu (28/1/2026), Kaesang secara terbuka mengumumkan rencana bergabungnya Rusdi Masse Mappasessu (RMS) ke PSI.
Sebuah pernyataan yang, dalam tradisi politik Indonesia, sejatinya tak pernah dilontarkan tanpa kalkulasi matang.
Publik Sulawesi Selatan (Sulsel) tahu, RMS bukan nama sembarangan di lanskap politik Sulsel. Ia adalah king maker regional, tokoh dengan jejaring politik lintas partai, lintas generasi, dan lintas kekuasaan.
Ketika Kaesang menyebut “anaknya sudah gabung, bapaknya insyaallah besok”, itu bukan sekadar narasi keluarga—melainkan penegasan estafet kekuasaan politik yang sedang diarahkan ke PSI.
Lebih menarik lagi, Kaesang tak berhenti pada RMS. Ia dengan sadar melempar umpan politik lebih jauh: menyebut keberadaan Wakil Gubernur Sulsel, Fatmawati Rusdi, yang juga istri RMS.
Kalimat Kaesang yang menyebut Fatma hadir “bukan sebagai wakil gubernur, tapi sebagai ibu” justru sarat makna politik. Dalam dunia perpolitikan, bahasa simbolik kerap lebih keras dari pernyataan resmi.
Isyarat itu jelas: PSI bukan hanya membidik figur, tapi membaca peta kekuatan keluarga politik—sebuah fenomena klasik dalam demokrasi elektoral Indonesia.
Jika RMS adalah poros, maka Fatmawati adalah simpul kekuasaan eksekutif yang tak bisa diabaikan.
Candaan Kaesang kepada Ketua DPW PSI Sulsel, Muammar Ferrirae Gandi, agar “mempengaruhi sedikit-sedikit” ibunya, sejatinya adalah pesan konsolidasi terbuka.
Ini menandai pergeseran PSI dari partai idealis semata menjadi partai yang mulai lihai bermain dalam realitas politik elektoral.
PSI tampaknya sadar, menghadapi kontestasi politik ke depan—baik pileg maupun pilkada—dibutuhkan lebih dari sekadar narasi anak muda dan media sosial. Diperlukan lokomotif politik lokal, dan RMS memenuhi hampir semua kriteria itu.
Bagi Sulawesi Selatan, langkah ini patut dibaca sebagai babak baru. Jika RMS benar-benar resmi merapat, maka konstelasi politik Sulsel akan mengalami reposisi. PSI yang sebelumnya berada di pinggir panggung, berpotensi naik kelas menjadi pemain strategis.
Politik, pada akhirnya, adalah seni membaca momentum. Dan di Makassar, Kaesang tampaknya tidak sedang bercanda. Ia sedang membuka kartu. (edybasri)






Tinggalkan Balasan