Enrekang, katasulsel.com – Di kaki pegunungan Enrekang, ada satu kawasan yang tak hanya menyimpan tradisi—tapi juga cara hidup yang nyaris tak tergoyahkan zaman. Namanya Kaluppini.
Selama enam hari, 1–6 April 2026, tim peneliti dari UIN Alauddin Makassar menelusuri jejak kehidupan masyarakat adat di sana. Bukan sekadar penelitian biasa. Mereka mencari sesuatu yang lebih dalam: rahasia harmoni yang membuat komunitas ini tetap bertahan di tengah arus globalisasi.
Hasilnya menarik.
Mereka menemukan satu konsep yang menjadi “urat nadi” kehidupan masyarakat Kaluppini: Trilogi Kerukunan.
Tiga hal yang tak bisa dipisahkan.
Tuhan, manusia, dan alam.
Bagi masyarakat Kaluppini, hubungan dengan Sang Pencipta bukan sekadar ritual. Ia hidup dalam setiap ruang, setiap aturan, bahkan dalam cara mereka memperlakukan tanah dan hutan.
Ketua tim peneliti, Zulkarnain, menyebut bahwa tata ruang di Kaluppini bukan sekadar pembagian wilayah.
“Ada ruang sakral untuk ritual, ruang sosial untuk interaksi, dan ruang produksi yang diatur ketat oleh adat. Semua itu adalah manifestasi nilai luhur masyarakat.”
Di sinilah Kaluppini berbeda.
Ruang bukan hanya tempat.
Ruang adalah makna.
Di satu sisi, ada kawasan yang tak boleh sembarangan dimasuki—tempat ritual yang dijaga kesuciannya. Di sisi lain, ada ruang hidup bersama, tempat masyarakat saling berinteraksi, memperkuat ikatan sosial.
Dan di luar itu, ada ruang produksi—lahan yang digarap, tapi tidak dieksploitasi. Semua diatur oleh hukum adat yang sudah diwariskan turun-temurun.
Yang menarik, harmoni ini tidak berdiri sendiri. Ia ditopang oleh struktur kepemimpinan adat yang kuat.
Dalam setiap keputusan, dalam setiap konflik, ada aturan yang dijaga. Itulah yang membuat kohesi sosial di Kaluppini tetap kokoh. Tidak mudah goyah.
Ritual-ritual adat seperti Pangewaran dan Maccera To Manurung menjadi bukti nyata bagaimana trilogi itu dijalankan.
Di sana, manusia berbicara dengan alam.
Manusia menyapa Tuhan.
Dan manusia saling menguatkan satu sama lain.
Lebih jauh, penelitian ini juga menemukan praktik yang bisa disebut sebagai ekoteologi—bagaimana kepercayaan spiritual berpadu dengan pelestarian lingkungan.
Ada kawasan hutan adat yang disebut ongko. Tidak boleh ditebang sembarangan. Ada aturan dalam memanfaatkan hasil bumi. Bahkan ada pantangan yang jika dilanggar, diyakini akan membawa konsekuensi bukan hanya bagi individu, tapi juga komunitas.
Di tengah dunia yang semakin modern, Kaluppini justru menunjukkan arah yang berbeda.


