Jakarta, Katasulsel.com — Siang itu belum genap pukul 12.30 WIB. Tapi langit di Kramat Jati sudah berubah.
Hitam. Pekat. Membumbung tinggi.
Warga di sekitar Jalan Raya Bogor sempat salah sangka—dikira asap dari wilayah Jakarta Selatan. Ternyata bukan.
Sumbernya lebih dekat.
Lebih nyata.
Lebih berbahaya.
Tumpukan pipa HDPE di lahan kosong terbakar.
Yang terbakar bukan kayu. Bukan rumah.
Tapi material plastik dan karet. Termasuk kabel optik.
Jenis bahan yang kalau terbakar—bukan cuma api yang muncul. Tapi asap tebal. Menyengat. Menutup pandangan.
Api cepat membesar.
Merambat liar.
Sampai ikut melahap pepohonan di sekitar lokasi.
Sebanyak 60 personel damkar diturunkan.
Didukung 10 unit armada dari wilayah Jakarta Timur.
Mereka datang bukan sekadar memadamkan api.
Mereka berpacu dengan waktu.
Dan angin.
Proses pemadaman berlangsung dramatis. Hampir dua setengah jam.
Api baru benar-benar bisa dijinakkan sekitar pukul 14.45 WIB.
Perwira piket damkar, Wahid, mengakui—ini bukan kebakaran biasa.
“Angin berputar dan asap cukup pekat, itu sangat mengganggu di awal pemadaman,” ujarnya.
Angin jadi lawan.
Arah tak menentu.
Membuat api sulit dikendalikan.
Ditambah lagi, karakter pipa HDPE yang mudah terbakar—mempercepat penyebaran sekaligus mempertebal asap.
Kombinasi yang menyulitkan.
Awalnya kecil.
Hanya kepulan asap dari bawah tumpukan material.
Lalu membesar.
Dan dalam waktu singkat—melalap hampir seluruh area.
Warga sempat mencoba memadamkan secara mandiri.
Tapi gagal.
Api terlalu cepat.
Akhirnya, laporan masuk ke petugas.
Satu korban tercatat.
Seorang warga bernama Angga mengalami luka di bagian kaki setelah terkena material karet yang terbakar saat membantu pemadaman.
Ia langsung mendapat penanganan dari tim medis Palang Merah Indonesia di lokasi.
Tidak ada korban jiwa.
Tapi kerugian materiil diperkirakan cukup besar.
Satu hal yang masih jadi tanda tanya:
Siapa pemilik tumpukan pipa itu?
Hingga kini, masih dalam penelusuran.
Begitu juga penyebab pasti kebakaran—masih diselidiki.
Peristiwa ini menyisakan pesan sederhana.
Jangan anggap sepele lahan kosong.
Jangan anggap aman material yang menumpuk.
Satu percikan kecil—cukup.
Dan siang di Kramat Jati hari itu sudah membuktikan—api tidak butuh banyak alasan untuk menjadi besar. (*)
