Sidrap, katasulsel.com – Pagi itu tidak seperti biasanya di Desa Bila Riase, Kecamatan Pitu Riase. Udara terasa lebih berat. Sunyi, tapi penuh beban. Di satu titik, garis polisi membatasi ruang—dan di baliknya, sebuah keluarga sedang berjuang menahan duka yang kembali dibuka.
Makam Muhammad Taufik dibongkar.
Bagi sebagian orang, ini mungkin sekadar proses hukum. Tapi bagi keluarga, ini adalah momen paling menyakitkan—melihat orang yang mereka cintai “dibangunkan” kembali dari peristirahatan terakhirnya.
Sejak awal, kepergian Taufik menyisakan luka yang belum sembuh. Kini, luka itu seperti disayat ulang.
Di antara kerumunan keluarga, Hati—istri almarhum—berdiri dengan mata sembab. Ia tak banyak bicara. Tatapannya hanya tertuju ke arah makam. Ketika tanah mulai disingkirkan, tangisnya pecah. Tak tertahan. Tak bisa disembunyikan.
Itu bukan sekadar tangisan. Itu rindu, kehilangan, dan harapan yang bercampur jadi satu.
Keluarga datang dari berbagai arah. Dari Sidrap, dari Gowa. Mereka berkumpul, saling menguatkan, meski masing-masing menyimpan luka yang sama. Di sana ada Safaruddin Daeng Nompo, paman korban, yang sejak malam sebelumnya sudah berada di lokasi. Wajahnya tegar, tapi suaranya menyimpan getar.
Ada satu sosok yang tak terlihat di lokasi—ibu kandung Taufik, Jumasari Daeng Kanang.
Ia ada di rumah, menunggu. Bukan karena tak ingin datang, tapi karena keluarga memilih melindunginya dari pemandangan yang terlalu menyakitkan.
“Kami takut dia tidak kuat,” ujar Daeng Nompo pelan.
Keputusan itu berat. Seorang ibu tidak menyaksikan langsung makam anaknya dibongkar. Tapi mungkin, itulah cara terbaik menjaga hatinya yang sudah terlalu rapuh.
Pukul 09.28 WITA, doa bersama dipanjatkan. Suara lirih mengalun. Beberapa menunduk, beberapa mengusap air mata. Di momen itu, harapan dan kepasrahan bertemu.
Lalu, tim Polda Sulawesi Selatan melalui Dokpol masuk ke dalam tenda putih bersekat biru. Pintu tertutup. Proses dimulai.
Di luar tenda, keluarga hanya bisa menunggu.
Menunggu dengan doa. Menunggu dengan harap. Menunggu dengan hati yang tak pernah benar-benar tenang.
Karena di balik proses itu, mereka tidak hanya mencari jawaban. Mereka mencari keadilan. Mereka ingin tahu—apa yang sebenarnya terjadi pada Taufik.
Setiap detik terasa panjang. Setiap suara kecil dari dalam tenda seolah memanggil perhatian. Tapi tak ada yang bisa dilakukan selain menunggu.
Di situlah haru itu terasa paling dalam—ketika manusia hanya bisa berserah, berharap pada kebenaran yang sedang diupayakan.
Ekshumasi ini bukan sekadar membuka makam. Ini membuka kembali kenangan, membuka luka, dan membuka harapan yang selama ini menggantung.
Jika nanti hasilnya keluar, mungkin tidak semua luka bisa sembuh. Tapi setidaknya, keluarga tidak lagi hidup dalam tanda tanya.
Dan pagi itu, di tanah yang kembali terbuka, doa-doa dipanjatkan dengan satu harapan sederhana: semoga kebenaran benar-benar menemukan jalannya. (*)


