
Menariknya, dinamika ini mempertemukan PSI dan NasDem di medan yang sama. Keduanya kini menyasar basis pemilih yang beririsan: moderat, rasional, dan kelas menengah. Dengan RMS di PSI, irisan itu semakin lebar. Sulsel pun berpotensi menjadi episentrum pertarungan politik baru.
Dalam konteks nasional, Sulsel bukan provinsi biasa. Ia adalah barometer kawasan timur, lumbung suara strategis, dan arena pembuktian kekuatan partai. Apa yang terjadi di Sulsel akan menjadi sinyal penting bagi konstelasi nasional menuju 2029.
Dalam jangka pendek, PSI akan memaksimalkan RMS sebagai wajah partai di Sulsel. Jika diberi ruang strategis di tingkat pusat, efeknya bisa melampaui batas regional. Dalam jangka panjang, jika PSI mampu mengawinkan basis RMS dengan pemilih muda urban, partai ini berpeluang menjadi kekuatan utama baru di Sulsel.
Sebaliknya, NasDem akan bertumpu pada konsolidasi dan regenerasi. Tantangannya adalah menciptakan figur baru yang mampu mengisi ruang simbolik yang ditinggalkan RMS. Keberhasilan atau kegagalan langkah ini akan menentukan arah NasDem di Sulsel ke depan.
Pada akhirnya, politik selalu berbicara tentang waktu dan momentum. Kepindahan RMS adalah dinamika yang sah dalam demokrasi, tetapi dampaknya jauh dari biasa. Ini adalah momen yang menguji ketangguhan NasDem sekaligus membuka peluang historis bagi PSI.
Bersambung…






Tinggalkan Balasan