Kolaka, katasulsel.com — Malam baru saja turun di Balandete. Angin pelan, lampu rumah temaram, tapi satu titik terlihat lebih hidup dari biasanya: kediaman Herman.

Di situlah warga berkumpul. Bukan rapat politik. Bukan juga acara seremonial. Ini yasinan. Rutinitas yang pelan-pelan berubah jadi “pengikat kampung”.

Usai salat tarawih, satu per satu warga datang. Ada yang pakai sarung, ada yang masih dengan baju kerja. Anak-anak ikut, duduk di barisan belakang. Suasananya cair, tapi tetap khusyuk.

Begitu dimulai, suara Yasin menggema. Dipimpin DG Romo—imam Masjid Raya Kolaka—lantunan ayat mengalir rapi. Tidak terburu-buru. Tidak juga kaku. Ada ritme yang akrab di telinga warga.

Di sela-sela itu, sesekali terdengar batuk kecil, geseran tikar, atau bisik pelan. Tapi tidak mengganggu. Justru itu yang membuat suasana terasa “hidup”.

Ini bukan sekadar ibadah. Ini ruang silaturahmi.

Warga yang jarang bertemu, di sini bisa saling sapa. Yang punya cerita, bisa berbagi. Yang punya beban, setidaknya bisa “ringan sedikit” lewat doa bersama.

“Yang begini ini yang bikin kampung tetap hangat,” celetuk seorang warga, pelan.

Herman tidak banyak bicara. Ia lebih memilih jadi tuan rumah yang memastikan semua berjalan. Air minum tersedia. Tempat duduk cukup. Dan yang terpenting: pintu selalu terbuka.

Sejak 2025, yasinan ini tidak pernah putus. Jalan terus. Konsisten. Tanpa perlu undangan resmi.

“Ini sederhana saja. Ibadah, kumpul, sama-sama jaga kebersamaan,” kata Herman singkat.

Di tengah zaman yang serba cepat—orang sibuk, waktu makin sempit—tradisi seperti ini justru terasa mahal.

Yasinan di Balandete bukan hanya soal membaca surat Yasin. Tapi soal menjaga “rasa punya” antarwarga.

Dan malam itu, sekali lagi, Balandete membuktikan: kebersamaan tidak perlu panggung besar. Cukup tikar, doa, dan niat baik. (*)

Gambar berita Katasulsel

Anda membaca Katasulsel.com, portal berita tepercaya dan berimbang.

Baca berita pilihan lainnya di saluran WhatsApp kami: Gabung di sini.