Kendari, katasulsel.com — Lebaran tahun ini kembali menghadirkan satu “adegan lama” yang selalu terasa baru: perbedaan waktu.

Kamis pagi (19/3/2026), di saat sebagian masyarakat Indonesia masih menanti keputusan resmi, ratusan umat Muslim di Kota Kendari dan Kabupaten Konawe Selatan sudah lebih dulu menggelar salat Idulfitri 1447 Hijriah.

Di lapangan Jalan Abdul Gani, Kelurahan Watulondo, Kecamatan Puuwatu, suasana pagi terasa berbeda. Takbir menggema lebih awal. Jemaah datang berbondong-bondong. Tidak ada keraguan di wajah mereka—yang ada hanya keyakinan.

Fenomena ini bisa disebut sebagai “Lebaran akseleratif”—istilah baru untuk menggambarkan kelompok yang merayakan Idulfitri lebih cepat berdasarkan perhitungan dan rukyat global.

Di Konawe Selatan, tepatnya di Kecamatan Konda, suasana serupa terulang. Masjid dipenuhi jemaah. Saf salat rapat. Khutbah Id mengalun di tengah udara pagi. Hari raya sudah dimulai—tanpa menunggu malam.

Media sosial pun menjadi panggung kedua dari peristiwa ini.

Akun Pedagang Cinta Syariah membagikan momen salat Id di Kendari, disertai penjelasan bahwa penentuan 1 Syawal merujuk pada hasil rukyat hilal global.

Sementara itu, Konsel Bertaqwa Channel mengunggah suasana salat Id di Kecamatan Konda. Video yang beredar memperlihatkan antusiasme jemaah yang seolah tak terpengaruh oleh perbedaan yang ada.

Di titik ini, muncul istilah lain: “Lebaran berbasis keyakinan metodologis”—di mana setiap kelompok berpegang pada metode penentuan masing-masing, baik rukyat global, hisab, maupun keputusan otoritas negara.

Sementara itu, pemerintah sendiri baru akan menggelar sidang isbat pada malam hari. Artinya, secara nasional, kepastian 1 Syawal belum diumumkan saat salat Id di Kendari dan Konsel sudah berlangsung.

Inilah yang bisa disebut sebagai “split moment Idulfitri”—momen terbelah, di mana satu perayaan terjadi dalam dua waktu berbeda.

Namun, di balik semua itu, tidak ada gesekan yang mencolok. Masyarakat tetap menjalankan ibadah dengan tenang. Perbedaan tidak menjadi konflik, melainkan realitas yang berulang setiap tahun.

Lebaran, pada akhirnya, bukan hanya soal tanggal. Tapi tentang makna.

Dan di Kendari pagi ini, makna itu sudah lebih dulu dirayakan.(*)

Gambar berita Katasulsel

Anda membaca Katasulsel.com, portal berita tepercaya dan berimbang.

Baca berita pilihan lainnya di saluran WhatsApp kami: Gabung di sini.