📣 Ikuti saluran resmi WhatsApp kami sebelum membaca berita!

Join WhatsApp

Sidrap, Katasulsel.com — Jangan bayangkan festival ini sekadar panggung dengan dekor etnik dan deretan kursi tamu undangan. Simponi Kecapi 2026 adalah “noise positif” dari akar rumput. Dentingnya bukan cuma bunyi senar, tapi sinyal kuat: tradisi Bugis belum pensiun.

Di balik gemanya berdiri Sanggar Seni Lipu Sarawa Art Community. Komunitas ini bukan pemain figuran. Mereka adalah engine room acara—dari konsep, kurasi penampil, hingga orkestrasi panggung. Dukungan dana Indonesiana dari Kementerian Kebudayaan RI menjadi amunisi. Tapi pelurunya? Kreativitas komunitas.

Kerenya di situ.

Festival ini dikemas bukan dengan rasa “jadul yang dipaksakan”. Justru sebaliknya. Lipu Sarawa menghadirkan kecapi sebagai main character. Petikan senarnya dirancang sebagai dramaturgi: ada pembuka yang mengajak, ada klimaks yang menggetarkan, ada penutup yang bikin penonton enggan pulang. Ini bukan sekadar konser. Ini experience.

Yang bikin naik kelas: keberanian mereka meracik tradisi dengan pendekatan kekinian tanpa kehilangan marwah. Anak-anak muda tampil percaya diri memegang kecapi—bukan sebagai properti, tapi identitas. Di tangan generasi ini, kecapi bukan museum piece. Ia relevant piece.

Atmosfernya cair. Tidak berjarak. Tidak eksklusif. Siapa pun bisa duduk, menyimak, larut. Festival ini terasa seperti ruang temu—maestro dan milenial, nostalgia dan visi masa depan, tradisi dan strategi branding budaya. Ya, branding. Karena di era sekarang, budaya tanpa positioning akan kalah oleh algoritma.

Lipu Sarawa paham betul itu. Mereka tidak sekadar menggelar acara, tetapi membangun narasi. Bahwa kecapi adalah cultural asset. Bahwa Sidrap punya suara. Bahwa warisan Bugis bisa tampil dengan percaya diri di tengah gempuran budaya populer.

Dan di situlah letak sisi menariknya: festival ini lahir dari kerja sunyi komunitas. Dari latihan yang mungkin tidak viral. Dari diskusi panjang yang tak terdengar. Dari konsistensi yang tidak selalu disorot kamera.

Ketika panggung menyala, itu adalah puncak dari proses yang matang.
Dukungan pemerintah pusat melalui Indonesiana menjadi katalis. Komunitas menjadi akselerator. Kolaborasi ini menghadirkan satu pesan penting: ekosistem budaya akan hidup jika negara dan komunitas saling menguatkan, bukan saling menunggu.

Simponi Kecapi 2026 bukan sekadar agenda. Ia adalah pernyataan. Bahwa dari sanggar sederhana, bisa lahir festival berstandar rasa nasional. Bahwa tradisi bukan barang antik. Ia adalah energi.
Dan ketika senar kecapi dipetik malam itu, yang terdengar bukan hanya musik. Yang terdengar adalah keyakinan—bahwa budaya Bugis masih punya panggung, dan ia tahu cara bersuara. (rian anugrah)