Ini cerita tentang bagaimana kebijakan bekerja—atau tidak bekerja—di lapangan.

Di daerah, rantai distribusi lebih panjang. Pengawasan tidak selalu rapat. Ketergantungan pada pengecer tinggi.

Dan ketika satu mata rantai longgar, seluruh sistem ikut goyah.

Yang kena bukan angka statistik.

Yang kena adalah orang-orang kecil.

Petani. Tukang ojek. Pengendara harian.

Mereka yang hidup dari hitungan liter.

Ketika Rp15 ribu tak lagi bernilai sama, itu bukan sekadar harga berubah.

Itu standar hidup yang turun pelan-pelan.

Lalu siapa yang bergerak?

Tidak cukup hanya mengawasi SPBU.

Masalahnya bukan di sana.

Masalahnya ada di antara SPBU dan konsumen.

Di jalur sunyi yang jarang disentuh.

Pemerintah daerah harus masuk ke situ. Aparat harus turun. Bukan sekadar razia sesekali, tapi memetakan alur distribusi sampai ke pengecer.

Kalau tidak, dua harga akan terus hidup berdampingan.

Harga negara.

Dan harga kenyataan.

Dan di Sidrap, hari ini, yang paling terasa… adalah harga kenyataan. (*)

Gambar berita Katasulsel