Oleh: Nurul Mashuda
SAN BERNARDINO, Katasulsel.com — Ini bukan sekadar cerita “kuliah ke luar negeri”. Ini soal panggung. Panggung global. Dan seorang mahasiswa Indonesia berdiri di atasnya—menggenggam mimbar, menyapa dunia.
Jumat siang, 10 April 2026, suasana di Masjid At-Taqwa NMC, San Bernardino, terasa sedikit berbeda. Jamaah datang dari berbagai latar—wajah Asia, Afrika, Arab, hingga Amerika. Multikultural. Beragam. Tapi siang itu, mereka disatukan oleh satu suara: khutbah berbahasa Inggris dari seorang kader muda Indonesia.
Dialah KH. Muhammad Arsyad Haikal.
Mahasiswa Pendidikan Kader Ulama Masjid Istiqlal (PKUMI) itu dipercaya menjadi khatib sekaligus imam salat Jumat. Bukan tugas biasa. Ini semacam “real test”—ujian nyata di lapangan, bukan sekadar teori di kelas.
Arsyad tidak tampil kaku. Ia mengalir. Khutbahnya sederhana, tapi “kena”. Ia mengangkat pesan klasik yang selalu relevan: konsistensi dalam kebaikan.
Dalam istilah kekinian: consistency is the key—konsistensi adalah kunci.
Ia mengutip hadis Nabi Muhammad SAW: amal yang paling dicintai Allah bukan yang besar dan heboh, tapi yang terus dilakukan, walau kecil. Pesan ini terasa “relatable”—mudah dipahami oleh jamaah lintas budaya.
Bukan cuma soal ibadah. Arsyad juga bicara soal hati.
Tentang memaafkan. Menghapus dengki. Dan mendoakan orang lain dengan tulus.
Bahasa Inggris yang ia gunakan bukan sekadar formalitas. Ini bagian dari “dakwah diplomacy”—cara berdakwah yang menjangkau, bukan menghakimi. Menyentuh, bukan menggurui.
Penampilan Arsyad bukan kebetulan. Ini sudah dirancang.
Di balik layar, ada Prof. Muhamad Ali. Ia mengatur agar seluruh mahasiswa PKUMI mendapat giliran tampil. Bergantian. Naik mimbar. Menghadapi jamaah langsung di Amerika Serikat.
Ini semacam “mental bootcamp”—latihan tempur bagi calon ulama. Bukan hanya soal ilmu agama, tapi juga public speaking, kepercayaan diri, hingga kemampuan membaca situasi sosial di tengah komunitas Muslim minoritas.
Program ini menjadi bagian dari short course di University of California, Riverside (UCR). Tapi jelas, pelajarannya jauh melampaui ruang kelas.
Ini tentang membangun global mindset—cara berpikir global tanpa kehilangan akar.
Di sinilah peran negara hadir.
Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) Kementerian Keuangan RI menjadi tulang punggung program ini. Bukan sekadar sponsor, tapi enabler—pembuka jalan.
Melalui dukungan LPDP, kader-kader ulama Istiqlal tidak hanya belajar, tapi juga “show up”—tampil di panggung internasional, membawa wajah Islam Indonesia yang moderat.
Islam yang ramah. Damai. Rahmatan lil ‘alamin.
Dan dari sebuah masjid di San Bernardino, pesan itu melintasi batas negara.
Pelan, tapi pasti. Indonesia sedang “berbicara” ke dunia. (*)
