MAKASSAR — Kota Makassar berubah menjadi panggung warna-warni saat Cap Go Meh 2577 berlangsung Sabtu (28/2/2026). Pawai budaya yang jadi puncak perayaan Imlek ini membawa ribuan warga menyaksikan barongsai, tatung, dan lampion menari di jalanan.

Rute arak-arakan dimulai dari Jalan Diponegoro, menyusuri Jalan Sangir, Jalan Sulawesi, Jalan Serui, hingga berakhir di Jalan Nusantara. Warga memadati pinggir jalan, sehingga kemacetan tak terhindarkan. Tapi, justru inilah yang menambah keseruan dan meriahkan suasana.

Petugas keamanan terlihat menjaga ketat sepanjang jalur pawai, memastikan seluruh peserta dan pengunjung tetap aman. Cuaca cerah menambah kenyamanan masyarakat yang ingin menyaksikan karnaval budaya ini.

Antusiasme Warga dan Mahasiswa

Syar, seorang warga yang datang bersama keluarga, mengaku senang bisa mengenalkan anak-anaknya pada budaya Tionghoa.

“Kami datang untuk ajak anak-anak lihat barongsai langsung. Suasananya meriah dan cocok untuk hiburan keluarga. Tadi juga sempat melihat tatung ikut arak-arakan, tapi tetap aman dan tertib,” kata Syar.

Alex, mahasiswa sekaligus fotografer amatir, memanfaatkan momen Cap Go Meh untuk berburu foto unik.

“Saya datang untuk mengambil foto momen Cap Go Meh. Keramaian pengunjung, barongsai, dan lampion membuat hasil foto lebih hidup dan menarik,” ujarnya.

Cap Go Meh: Hiburan, Edukasi, dan Toleransi

Perayaan Cap Go Meh 2577 Makassar bukan sekadar hiburan. Karnaval ini menjadi wadah edukasi budaya, mengenalkan tradisi Tionghoa ke masyarakat luas. Lebih dari itu, acara ini menjadi simbol toleransi antarumat beragama, karena warga dari berbagai latar belakang ikut memeriahkan prosesi.

Kemeriahan barongsai, lampion, dan tatung yang berjalan beriringan memberi pelajaran tentang keberagaman yang harmonis. Makassar membuktikan, budaya bisa menjadi jembatan persaudaraan, bukan sekadar tontonan. (*)