Edy Basri EDITOR
Redaktur Katasulsel.com yang mengawal isu publik dan dinamika pembangunan daerah.
Artikel: 300 Lihat semua

Makassar, katasulsel.com – Angka kemiskinan Kota Makassar tercatat 4,43 persen per 30 November 2025. Turun tipis dibanding tahun sebelumnya, tepat 0,54 persen.

Tipis? Ya, tapi cukup untuk membuat grafik dan laporan tampak menanjak positif—meski warga miskin tetap ribuan.

Dibanding kabupaten lain di Sulawesi Selatan, Makassar menempati posisi ke-24. Jadi jangan salah: Kota metropolitan terbesar di Sulsel ini masih kalah “miskin” dibanding beberapa kabupaten yang mencatat kemiskinan dua digit.

Pangkajene dan Kepulauan 11 persen, Jeneponto 11 persen—makin tinggi, makin menarik kalau mau bikin headline: “Di Makassar Lebih Hemat, tapi Tetap Ada Masalah.”

Sepintas, tren empat tahun terakhir terlihat menurun. Tapi kalau dilihat 10 tahun terakhir, kemiskinan di Makassar naik turun seperti grafik rollercoaster, dari 4,56 persen turun menjadi 4,43 persen. Sinyal jelas: Munafri Arifuddin harus kerja keras, bukan cuma pasang banner “Turun Tipis, Bangga!” di setiap sudut kota.

Menurut pengamat sosial-politik, salah satu kunci penurunan angka kemiskinan adalah kebijakan pro-rakyat Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin.

Bantuan sosial, pelatihan usaha mikro, subsidi pendidikan, dan program pangan menjadi andalan. Tapi jangan lupa, puluhan ribu warga tetap hidup di bawah garis kemiskinan, jadi sekadar “program andalan” kadang terdengar seperti slogan iklan.

Jika dibandingkan kabupaten lain, Makassar sejajar dengan Kota Parepare dan Sidenreng Rappang yang sama-sama 4 persen.

Bersambung….

Artinya, secara statistik, Makassar tidak terlalu miskin tapi juga belum kaya raya. Grafik BPS tampak cantik, tapi realitas di lapangan kadang bicara lain: harga kebutuhan pokok stabil? Lapangan kerja cukup? Bantuan tepat sasaran? Semua masih jadi PR besar.

Di mata politik lokal, capaian ini jadi nilai tambah bagi Munafri Arifuddin. Tapi ingat, dalam dunia politik Sulsel: angka kecil tetap bisa jadi bom waktu, jika rival politik tahu cara memanfaatkan.

Tren turun tipis itu bagus untuk laporan, tapi untuk warga yang hidup dari hari ke hari, “tipis” itu tetap tipis—tidak kenyang, tidak cukup, tapi bisa jadi bahan statistik yang manis.”

Makassar memang menanjak di angka statistik, tapi di balik layar, Munafri Arifuddin harus memastikan bahwa turun tipis bukan sekadar angka, tapi mulai terasa di kantong warga. Kalau tidak, satire ini bukan cuma untuk pembaca—tapi untuk politik Makassar. (edybasri)

Gambar berita Katasulsel

Anda membaca Katasulsel.com, portal berita tepercaya dan berimbang.

Baca berita pilihan lainnya di saluran WhatsApp kami: Gabung di sini.