📣 Ikuti saluran resmi WhatsApp kami sebelum membaca berita!

Join WhatsApp

Saya melihat gambar (Infogafik Pertanian) di atas, lama…, saya amati, saya suka.

Oleh: Edy Basri

Bukan karena desainnya.
Bukan karena warnanya yang hijau mendominasi.
Melainkan karena angka-angkanya terasa “berat”.

663.819 ton.
Rp 4,5 triliun.
Rp 6.800 per kilogram.

Angka-angka seperti itu biasanya dingin. Tapi kali ini tidak. Karena saya baru saja menginjak lumpurnya.

Infografik itu menyebut “Sukses Besar!”. Kalimat yang berani. Tapi anehnya, tidak terasa berlebihan. Karena angka yang ditampilkan bukan lonjakan semu. Ada pembandingnya. Ada konteks waktunya. Ada basisnya.

Tahun 2024:
534.355 ton.
Harga Rp4.800 per kilogram.
Nilai Rp2,56 triliun.

Tahun 2025:
663.819 ton.
Harga Rp6.800 per kilogram.
Nilai Rp4,51 triliun.

Selisihnya bukan main-main. Hampir Rp2 triliun naik dalam satu tahun. Dan yang menarik: infografik ini jujur sejak awal—yang dihitung adalah Gabah Kering Panen (GKP). Bukan GKG. Bukan beras. Bukan turunan lain yang nilainya lebih tinggi.

Artinya, ini angka dari sawah. Dari hasil panen paling awal. Dari titik paling dasar.

Saya teringat kalimat Bupati Sidrap, Syaharuddin Alrif:
“Ini baru dari GKP.”

Kalimat itu tidak saya baca sebagai klaim. Lebih sebagai penanda batas. Seolah ingin berkata: jangan dibesar-besarkan, ini baru permulaan.

Infografik ini juga menekankan satu hal penting: kenaikan bukan dari satu musim tanam. Tapi akumulasi tahunan. Ini penting. Karena di banyak tempat, keberhasilan sering diklaim dari satu panen bagus. Sidrap memilih jalan yang lebih sunyi: konsistensi.

Saya melihat foto bupatinya di tengah sawah. Tidak pose berlebihan. Tidak ada gestur heroik. Ia tampak seperti orang yang sedang bekerja, bukan dipamerkan. Itu detail kecil, tapi menentukan rasa.

Ketika infografik menyebut kenaikan produksi 24,23 persen, saya langsung ingat Landung di Massepe. Ia tidak menyebut persentase. Ia hanya bilang, “Sekarang gabah itu ada rasanya.”

Persentase di gambar itu menemukan maknanya di kalimat Landung.

Ketika tertulis “harga GKP naik dari Rp4.800 ke Rp6.800 per kilogram berdampak langsung pada pendapatan petani”, saya teringat Amire di Tanrutedong yang berkata, “Sekarang kita bisa tunggu.”

Dan ketika gambar menutup dengan kalimat Sidrap menegaskan posisinya sebagai lumbung pangan strategis Sulawesi Selatan, saya teringat Sudding di Tanete yang berkata pendek, “Sekarang sawah dijaga.”

Infografik ini bekerja karena ia tidak berdiri sendiri. Ia punya ekosistem. Angka-angkanya hidup karena ada manusia di belakangnya.

Kalau saya harus jujur sebagai penulis, gambar ini bukan alat propaganda. Ia lebih mirip ringkasan dari kerja yang sudah terjadi. Angkanya terlalu spesifik untuk disebut karangan. Perbandingannya terlalu rapi untuk disebut kebetulan.

Dan yang paling penting: angka Rp4,5 triliun itu belum selesai. Karena ini baru GKP. Begitu masuk GKG, nilainya naik. Begitu masuk rantai beras, naik lagi.

Sidrap masih di awal cerita.

Infografik ini hanya satu halaman. Sawahnya jauh lebih luas. (*)