📣 Ikuti saluran resmi WhatsApp kami sebelum membaca berita!
Join WhatsAppSalah satu kata kunci yang sering muncul dalam setiap pergantian kepemimpinan adalah “energi baru”. Namun energi baru tidak selalu berarti perubahan drastis. Dalam konteks NasDem Sulsel, energi baru yang diharapkan dari KK Sahar adalah kemampuan menyuntikkan semangat segar tanpa merusak fondasi yang sudah kokoh.
Beban prestasi elektoral yang ditinggalkan RMS tentu menjadi pekerjaan rumah besar. Mempertahankan kemenangan sering kali lebih sulit daripada meraihnya. Apalagi di tengah dinamika politik nasional dan daerah yang cepat berubah, fragmentasi pemilih, serta meningkatnya pragmatisme politik. Namun di sinilah pengalaman panjang KK Sahar menjadi relevan. Ia bukan politisi yang baru belajar membaca peta. Ia telah lama berada di dalamnya. Tantangannya kini adalah bagaimana mengelola ekspektasi, menjaga soliditas internal, dan tetap adaptif terhadap perubahan.
Pergantian kepemimpinan ini juga harus dibaca dalam konteks yang lebih luas: peran NasDem Sulsel dalam politik regional dan nasional. Sulawesi Selatan bukan sekadar provinsi besar secara demografis, tetapi juga wilayah strategis dalam peta politik nasional. Kekuatan partai di daerah ini sering kali menjadi barometer arah politik kawasan timur Indonesia.
Dengan KK Sahar sebagai nahkoda baru, NasDem Sulsel memiliki peluang untuk memperkuat posisinya sebagai kekuatan politik regional yang stabil dan berpengaruh. Namun peluang ini hanya bisa terwujud jika kepemimpinan baru mampu menjaga keseimbangan antara konsolidasi internal dan ekspansi eksternal.
Pada akhirnya, politik bukanlah panggung bagi mereka yang hanya ingin cepat sampai. Ia adalah perjalanan panjang yang menuntut kesabaran, ketekunan, dan keteguhan nilai. Pergantian kepemimpinan NasDem Sulsel dari RMS kepada KK Sahar adalah bagian dari perjalanan itu—sebuah fase baru yang penuh tantangan sekaligus harapan.
Jika RMS dikenal sebagai arsitek kemenangan, maka KK Sahar kini diuji sebagai penjaga warisan sekaligus perancang masa depan. Sejarah akan mencatat bukan hanya siapa yang memimpin, tetapi bagaimana kepemimpinan itu dijalankan: apakah ia mampu menjawab harapan rakyat, menjaga kepercayaan partai, dan menempatkan politik sebagai alat pengabdian, bukan sekadar perebutan kekuasaan.
Part 3






Tinggalkan Balasan