📣 Ikuti saluran resmi WhatsApp kami sebelum membaca berita!

Join WhatsApp

Ngada, katasulsel.com – Tragedi meninggalnya seorang murid SD di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), yang nekat mengakhiri hidup karena tak mampu membeli buku dan pena, menggugah perhatian serius pemerintah pusat.

Menteri Sosial Saifullah Yusuf menegaskan bahwa kejadian tersebut menjadi peringatan keras bagi sistem perlindungan sosial di Indonesia.

Mensos Saifullah Yusuf atau Gus Ipul mengaku sangat prihatin atas peristiwa tersebut. Menurutnya, kematian anak berusia 10 tahun itu tidak bisa dipandang sebagai persoalan keluarga semata, melainkan mencerminkan lemahnya pendampingan sosial terhadap keluarga rentan.

“Kejadian ini menjadi perhatian serius kita semua. Sistem perlindungan sosial harus diperkuat, terutama pendampingan kepada keluarga miskin dan rentan,” kata Saifullah Yusuf kepada wartawan, Selasa (3/2).

Ia menilai, negara seharusnya hadir lebih awal sebelum kondisi ekonomi dan psikologis keluarga jatuh ke titik paling rapuh.

Oleh karena itu, Kementerian Sosial akan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap akurasi data penerima bantuan sosial, khususnya di wilayah-wilayah dengan tingkat kemiskinan ekstrem.

Menurut Mensos, pemerintah sebenarnya memiliki berbagai program bantuan. Namun, jika data tidak akurat dan pendampingan di lapangan lemah, maka masyarakat yang paling membutuhkan justru bisa terlewatkan.

“Kita harus pastikan data keluarga miskin benar-benar valid. Jangan sampai ada warga yang seharusnya mendapatkan bantuan, tetapi tidak terjangkau sistem,” ujarnya.

Saifullah Yusuf juga menekankan pentingnya peran pemerintah daerah dalam mendeteksi lebih dini kondisi sosial masyarakat. Pendamping sosial di lapangan diminta lebih aktif memantau keluarga rentan, terutama yang memiliki anak usia sekolah.

Kasus di Ngada ini, lanjutnya, harus menjadi bahan evaluasi bersama lintas kementerian dan pemerintah daerah. Pendidikan yang seharusnya menjadi ruang aman bagi anak-anak tidak boleh berubah menjadi sumber tekanan akibat kemiskinan.

“Kita tidak ingin tragedi seperti ini terulang. Negara harus hadir lebih cepat, bukan setelah kejadian,” tegasnya.

Tragedi tersebut menyita perhatian publik setelah diketahui korban nekat mengakhiri hidup karena merasa tak mampu memenuhi kebutuhan sekolah paling dasar, yakni buku dan alat tulis. Peristiwa ini memunculkan keprihatinan luas sekaligus desakan agar negara lebih serius melindungi anak-anak dari dampak kemiskinan ekstrem.

Mensos berharap, penguatan sistem perlindungan sosial ke depan tidak hanya bersifat administratif, tetapi benar-benar menyentuh keluarga yang paling membutuhkan, sehingga tidak ada lagi anak yang kehilangan masa depan karena persoalan ekonomi. (*)