
Penulis: Dr. Syamsul Bahri, S. Farm., M. Kes.
(Dosen Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Mega Buana Palopo)
Awal tahun 2026 kembali menempatkan Indonesia pada satu fase ekologis yang berulang namun tak pernah benar-benar tuntas dipelajari: musim hujan. Curah hujan yang meningkat, kelembapan udara yang tinggi, serta perubahan suhu lingkungan yang fluktuatif membentuk sebuah ekosistem yang ideal bagi berkembangnya berbagai agen penyakit. Dalam perspektif kesehatan masyarakat (public health), musim hujan bukan sekadar fenomena klimatologis, melainkan periode peningkatan health risk exposure yang menuntut kesiapsiagaan kolektif.
Secara epidemiologis, musim hujan memiliki korelasi kuat dengan peningkatan insidensi penyakit berbasis lingkungan (environment-related diseases), terutama demam berdarah dengue (DBD), diare akut, infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), influenza, hingga leptospirosis. Penyakit-penyakit ini tidak berdiri sendiri, melainkan saling berkaitan melalui satu benang merah: rendahnya kualitas perilaku hidup bersih dan sehat serta melemahnya sistem pertahanan tubuh akibat stres lingkungan.
Tubuh Manusia dan Tantangan Musim Hujan
Tubuh manusia adalah sistem biologis yang sangat adaptif, namun memiliki batas toleransi terhadap perubahan lingkungan. Paparan hujan, suhu dingin, dan kelembapan tinggi dapat memicu thermal stress yang berdampak pada penurunan efektivitas sistem imun, khususnya imunitas mukosa saluran pernapasan. Kondisi ini membuka peluang terjadinya infeksi virus respiratorik seperti influenza dan ISPA non-spesifik.
Penggunaan pakaian hangat, jas hujan, dan payung sering kali dipandang sebagai kebiasaan remeh. Padahal, dari sudut pandang fisiologi, menjaga suhu tubuh agar tetap dalam kondisi homeostasis merupakan langkah preventif penting. Ketika tubuh mengalami hipotermia ringan akibat kehujanan, terjadi vasokonstriksi perifer yang dapat menurunkan respons imun lokal. Oleh karena itu, anjuran untuk segera mandi air hangat dan mengganti pakaian basah bukanlah mitos tradisional, melainkan praktik yang sejalan dengan prinsip preventive medicine.
Imunitas: Pertahanan Tak Kasat Mata
Dalam ilmu imunologi, daya tahan tubuh (immune competence) dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari status gizi, kualitas tidur, tingkat stres, hingga aktivitas fisik. Musim hujan sering kali mengganggu ritme hidup masyarakat—aktivitas berkurang, paparan sinar matahari menurun, dan pola makan menjadi kurang seimbang. Kombinasi ini dapat menurunkan fungsi sistem imun adaptif maupun innate.
Asupan nutrisi berperan krusial dalam menjaga fungsi sel-sel imun, seperti limfosit, makrofag, dan sel natural killer. Vitamin C berfungsi sebagai antioksidan yang mendukung aktivitas fagositosis, sementara vitamin A berperan dalam menjaga integritas epitel mukosa, yang merupakan garis pertahanan pertama terhadap patogen. Kekurangan mikronutrien ini terbukti secara ilmiah meningkatkan kerentanan terhadap infeksi saluran pernapasan dan gastrointestinal.
Istirahat yang cukup juga memiliki implikasi imunologis yang signifikan. Kurang tidur kronis dapat meningkatkan kadar hormon kortisol yang bersifat imunosupresif. Sementara itu, olahraga ringan dengan intensitas sedang terbukti meningkatkan sirkulasi sel imun dan memperbaiki respons inflamasi yang terkontrol. Dengan kata lain, menjaga imunitas bukan sekadar anjuran gaya hidup sehat, melainkan strategi biologis untuk mempertahankan kelangsungan fungsi tubuh di tengah tekanan lingkungan.
Nyamuk, Air, dan Epidemi Dengue
Demam berdarah dengue tetap menjadi ancaman utama setiap musim hujan. Penyakit ini merupakan contoh klasik vector-borne disease yang sangat dipengaruhi oleh faktor lingkungan dan perilaku manusia. Nyamuk Aedes aegypti berkembang biak optimal pada air bersih yang tergenang, sering kali justru berada di sekitar permukiman manusia.
Pendekatan 3M Plus—menguras, menutup, mendaur ulang, dan tindakan tambahan—merupakan intervensi berbasis komunitas (community-based intervention) yang telah terbukti menurunkan larval index dan house index pada berbagai studi epidemiologi. Namun, efektivitasnya sangat bergantung pada konsistensi dan partisipasi masyarakat. Satu rumah yang abai dapat menjadi sumber transmisi bagi satu lingkungan.
Penggunaan losion anti-nyamuk, kelambu, dan pengelolaan lingkungan bebas genangan air adalah bagian dari integrated vector management. Pencegahan DBD tidak cukup hanya mengandalkan fogging, karena fogging bersifat reaktif dan tidak menyentuh fase larva. Yang dibutuhkan adalah perubahan perilaku berkelanjutan yang berakar pada kesadaran kolektif.
Diare, Air, dan Higienitas
Musim hujan juga identik dengan meningkatnya kasus diare, terutama pada anak-anak. Kontaminasi sumber air oleh bakteri patogen seperti Escherichia coli, Vibrio cholerae, dan Salmonella menjadi faktor utama. Dalam konteks ini, perilaku higienis memainkan peran sentral.
Mencuci tangan dengan sabun sebelum makan dan setelah beraktivitas di luar rumah adalah intervensi kesehatan masyarakat yang paling sederhana namun paling efektif. Dari sudut pandang mikrobiologi, sabun mampu merusak membran lipid mikroorganisme, sehingga menurunkan beban patogen secara signifikan. Praktik ini terbukti menurunkan insidensi diare hingga lebih dari 40 persen dalam berbagai penelitian.
Selain itu, menghindari kontak dengan air kotor atau kubangan saat banjir penting untuk mencegah leptospirosis, penyakit zoonosis yang disebabkan oleh bakteri Leptospira interrogans. Penyakit ini sering kali luput dari perhatian, namun memiliki tingkat fatalitas yang tidak rendah jika terlambat ditangani.
PHBS sebagai Pilar Kesehatan Masyarakat
Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) merupakan strategi kesehatan masyarakat yang dirancang untuk mendorong perubahan perilaku positif secara berkelanjutan. PHBS tidak berdiri di ruang hampa, melainkan berakar pada teori perubahan perilaku, khususnya model KAP (Knowledge, Attitude, Practice). Model ini menegaskan bahwa perubahan perilaku dimulai dari peningkatan pengetahuan, diikuti pembentukan sikap, dan akhirnya diwujudkan dalam praktik nyata.
Namun, dalam praktiknya, pengetahuan saja tidak cukup. Dibutuhkan reinforcing factors berupa keteladanan dan dukungan sosial. Di sinilah peran tokoh masyarakat, tokoh agama, dan tenaga kesehatan menjadi krusial. Mereka bukan sekadar penyampai pesan, tetapi agen perubahan yang mampu membentuk norma sosial baru.
PHBS juga menekankan pentingnya self-efficacy, yaitu keyakinan individu bahwa ia mampu melakukan perilaku sehat secara konsisten. Edukasi kesehatan yang efektif harus mampu membangun kepercayaan diri masyarakat bahwa tindakan sederhana—seperti cuci tangan, pengelolaan sampah, dan menjaga kebersihan lingkungan—memiliki dampak nyata terhadap kesehatan mereka.
Kesadaran Individual dan Tanggung Jawab Kolektif
Pada akhirnya, kesehatan di musim hujan adalah refleksi dari relasi antara manusia dan lingkungannya. Negara dapat menyediakan kebijakan, sistem kesehatan dapat menyiapkan layanan, tetapi benteng terakhir tetap berada pada kesadaran individu dan solidaritas sosial. Pencegahan penyakit adalah investasi jangka panjang yang hasilnya tidak selalu kasat mata, tetapi terasa ketika wabah tidak terjadi.
Musim hujan awal 2026 seharusnya menjadi momentum refleksi bersama. Bahwa menjaga kesehatan bukan sekadar urusan medis, melainkan pilihan hidup. Pilihan untuk peduli pada tubuh sendiri, lingkungan sekitar, dan sesama. Dalam ikhtiar-ikhtiar kecil itulah, kesehatan publik dibangun—perlahan, namun berkelanjutan. (*)






Tinggalkan Balasan