📣 Ikuti saluran resmi WhatsApp kami sebelum membaca berita!
Join WhatsAppSidrap, Katasulsel.com —Langkah Aan Wahyu Junaedy alias AAN makin jauh. Bukan lagi sekadar bergerak di level provinsi. Ia kini resmi mengemban amanah sebagai Koordinator Wilayah Pulau Sulawesi HIPMI PT Badan Koordinasi Pusat (BakorPus). Sebuah lompatan struktural dari posisi sebelumnya sebagai Kepala Bidang 6 HIPMI PT Sulawesi Selatan.
Dalam bahasa sederhana: naik kelas.
“Alhamdulillah amanah baru dipercaya sebagai koordinator wilayah dan naik satu tingkat. Sebelumnya di provinsi, sekarang di Badan Koordinasi Pusat HIPMI PT,” ujar AAN
Di struktur HIPMI PT, jabatan Koordinator Wilayah bukan posisi pelengkap. Ia adalah simpul konsolidasi lintas provinsi. Mengawal pergerakan kader mahasiswa pengusaha se-Sulawesi—dari Sulsel hingga Sulut. Dari Sulteng sampai Sultra. Sebuah peran strategis dalam peta kaderisasi pengusaha muda nasional.
Bagi Sidrap, pencapaian ini punya makna simbolik. AAN bukan sekadar aktivis organisasi. Ia adalah putra dari H. Ilham Junaedy, politisi sekaligus pengusaha asal Sidrap. Nama yang tak asing dalam dinamika politik dan bisnis lokal.
Namun AAN tidak berdiri semata karena nama besar. Di HIPMI PT Sulsel, ia dikenal aktif membangun jejaring dan menggerakkan kader. Kenaikan ke level pusat menjadi semacam validasi bahwa ia dianggap mampu membaca peta organisasi lebih luas.
Di tengah narasi besar soal bonus demografi dan pentingnya melahirkan entrepreneur muda, HIPMI PT menjadi laboratorium kepemimpinan. Tempat mental bisnis ditempa sejak bangku kuliah. Maka, posisi Koordinator Wilayah adalah jalur strategis—bukan hanya mengurus agenda, tapi membangun ekosistem.
Sidrap selama ini identik dengan “Kota Beras”. Kuat di pertanian dan energi. Kini, dari sektor SDM, nama daerah itu ikut disebut lewat pergerakan anak mudanya di panggung nasional. AAN menjadi salah satu representasi bahwa aset daerah bukan hanya sumber daya alam, tapi juga sumber daya manusia.
Tantangan ke depan tentu tidak ringan. Sulawesi memiliki karakter ekonomi dan budaya yang beragam. Koordinasi lintas provinsi membutuhkan kepemimpinan yang adaptif, komunikatif, dan visioner. Tapi justru di situlah panggung pembuktian dimulai.
Dari Bumi Nene Mallomo ke meja koordinasi pusat. AAN sedang menapaki jalur itu—membawa nama keluarga, membawa nama daerah, sekaligus membawa harapan generasi muda Sulawesi dalam dunia kewirausahaa (*)






Tinggalkan Balasan