Saya mencatat satu hal: humor Dandim bukan sekadar hiburan. Itu strategi untuk membangun kedekatan, mencairkan suasana, dan menegaskan bahwa kepemimpinan TNI juga soal kemampuan berkomunikasi hangat.
Ketua KJI Sulsel, saya sendiri, merasa diakui sebagai mitra strategis. Begitu pula Darwis Pantong, Ketua PWI Kabupaten Sidrap. “Ini bukan sekadar acara formal,” kata saya dalam hati. “Ini adalah dialog, kolaborasi, dan sedikit hiburan yang sarat makna.”
Dandim juga menekankan nilai-nilai kearifan lokal Bugis: integritas, loyalitas, dan tanggung jawab. “TNI lahir dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat,” ujarnya menatap mata para jurnalis. “Media adalah mitra kami. Informasi yang tepat membantu kami melayani rakyat lebih baik.”
Yang membuat saya kagum adalah cara Dandim menyampaikan pengalaman internasionalnya. Ia menceritakan latihan gabungan di luar negeri dengan cerita ringan, guyonan soal kopi asing yang terlalu pahit bagi lidah orang Bugis, dan komentar jenaka tentang budaya lain.
Semua orang tertawa, tapi tetap mengerti
Acara kemudian mengarah ke sesi tanya jawab yang lebih informal. Dandim membiarkan jurnalis berbagi pengalaman unik mereka, lalu merespons dengan komentar ringan yang sekaligus mengandung pesan strategis. Sekali lagi, humor dan profesionalisme berpadu.
Pagi itu hampir berakhir, tapi Dandim masih ingin duduk berlama-lama dengan jurnalis. Saya bisa melihat keinginannya untuk terus berbagi cerita dan canda. Namun panggilan tugas sudah menanti—sebuah vicon dengan atasannya. Saya persilakan beliau beranjak.
“Sayang sekali, tapi tugas menanti,” ujarnya sambil menyeruput kopi. Lalu senyumnya muncul lagi, khas dan hangat. “Nanti setelah ini, kita lanjut di depan. Ada coto yang sudah menunggu. Semuanya saya yang bayar,” candanya. Tawa pecah lagi, suasana tetap cair.

Tinggalkan Balasan