Makassar, katasulsel.com — Ada pelantikan. Ada pidato. Ada foto bersama. Tapi di balik itu, ada pesan yang jauh lebih serius: PSI Sulawesi Selatan tidak ingin sekadar ada. Mereka ingin bekerja — dan dihitung.

Rabu (28/1/2026), pengurus DPW dan DPD PSI se-Sulsel resmi dikukuhkan. Ketua Umum PSI, Kaesang Pangarep, hadir langsung. Bukan hanya untuk melantik, tetapi memberi tanda bahwa Sulsel bukan daerah pelengkap dalam peta besar politik PSI.

Makassar menjadi titik start. Tapi perhatian justru mengarah ke daerah-daerah penentu. Salah satunya: Kabupaten Sidrap.

Sidrap dan Nama Nurkanaah
Di antara deretan nama yang dilantik, Nurkanaah mencuri perhatian. Wakil Bupati Sidrap itu kini resmi memimpin DPD PSI Sidrap. Sebuah posisi yang tidak bisa dibaca sebagai formalitas belaka.

Sidrap bukan daerah kosong politik. Ia punya basis, sejarah, dan karakter pemilih yang kuat. Menempatkan Nurkanaah di pucuk kepemimpinan PSI Sidrap adalah pesan jelas: PSI ingin serius di tingkat lokal, bukan hanya ramai di pusat.

Nurkanaah dikenal sebagai figur yang terbiasa bekerja dalam struktur pemerintahan dan dekat dengan masyarakat. Kombinasi ini menjadi modal penting bagi PSI, partai yang selama ini identik dengan wajah nasional dan perkotaan.

Bukan Kehormatan, Tapi Tanggung Jawab
Ketua DPW PSI Sulsel, Muammar Gandi Rusdi, dalam pidatonya menegaskan bahwa kepengurusan baru ini bukan ajang prestise.

“Ini bukan soal jabatan. Ini tanggung jawab,” ujarnya.

Nada yang sama juga terasa dari pusat. Kaesang menekankan satu hal: PSI tidak boleh mempermalukan diri sendiri dengan kerja setengah hati. Struktur harus bergerak. Kader harus turun. Dan daerah harus hidup.

Menguatkan PSI di Sulsel tidak cukup dengan narasi nasional. Itu sebabnya figur-figur lokal seperti Nurkanaah menjadi penting.

Sidrap dipandang sebagai salah satu daerah strategis: kuat secara sosial, solid secara politik, dan punya pengaruh regional. Jika PSI berhasil menanamkan akar di Sidrap, maka efeknya bisa menjalar ke wilayah sekitar.

Nurkanaah diharapkan menjadi penghubung antara politik kerja dan politik gagasan — dua hal yang sering sulit dipertemukan.

Dari Seremoni ke Kerja Nyata
Pelantikan selesai. Lampu ballroom padam. Foto-foto diunggah. Tapi pekerjaan baru saja dimulai.

PSI Sulsel kini diuji bukan oleh lawan politik, melainkan oleh ekspektasi publik. Apakah partai ini mampu membuktikan bahwa mereka bukan sekadar alternatif, tetapi pilihan yang relevan?

Di Sidrap, pertanyaan itu langsung mengarah ke Nurkanaah.

PSI Sulsel sedang membangun babak baru. Makassar menjadi panggung, tetapi daerah seperti Sidrap adalah medan sebenarnya.

Dengan Nurkanaah di barisan depan PSI Sidrap, publik menunggu satu hal sederhana namun krusial: apakah PSI mampu menjawab kepercayaan dengan kerja nyata?

Waktu akan menjawab. Tapi satu hal pasti: PSI Sulsel sudah mulai bergerak. (*)