Katasulsel.com — Tiga bulan. Tidak lama bagi kalender. Tapi cukup panjang untuk menampar kesadaran.

Onadio Leonardo—musisi yang publik kenal sebagai Onad—akhirnya menghirup udara bebas setelah menuntaskan masa rehabilitasi. Ia tidak keluar sebagai pemenang. Ia keluar sebagai orang yang sadar bahwa narkoba bukan sekadar soal zat terlarang, melainkan soal siapa saja yang kita izinkan masuk ke lingkaran terdekat.

Onad tidak berputar-putar. Ia menyebut satu kesalahan utama yang menyeretnya ke titik terendah pada Oktober 2025 lalu: gagal memfilter pertemanan.

“Tahu diri. Jangan bodoh,” ucapnya lugas.

Kalimat itu terdengar keras. Tapi justru di situlah letak kejujurannya. Rehabilitasi memberinya ruang sunyi untuk menyadari bahwa pergaulan yang salah sering kali datang dengan wajah ramah.

Yang membuatnya terkejut bukan siapa yang pergi, melainkan siapa yang datang. Banyak yang menjenguk. Terlalu banyak. Dari situ ia paham, tidak semua kehadiran berarti kepedulian.

Kesadaran itu lalu mengantar Onad pada satu nama yang ia jadikan tolok ukur baru: Habib Ja’far. Bagi Onad, sosok pendakwah tersebut merepresentasikan lingkungan yang sehat—tenang, terbuka, dan memberi arah.

Bahkan, setelah kembali memeluk anak dan keluarganya, satu tujuan sudah ia patok: mendatangi rumah Habib Ja’far. Sebuah simbol awal untuk membangun lingkaran baru.

Di sisi lain, ada peran yang tak kalah penting: sang istri, Beby Prisillia. Selama rehabilitasi, ia datang menjenguk tiga kali seminggu. Kini, perannya bergeser menjadi penjaga jarak—lebih protektif, lebih waspada.

“Pokoknya aku temanin terus,” ujarnya singkat.

Publik tentu belum lupa. Onad ditangkap di rumahnya di Rempoa pada 30 Oktober 2025, dengan barang bukti sisa ganja. Kasus itu merembet ke mana-mana: kontrak kerja terhenti, endorsement menguap, waktu bersama keluarga hilang.

Namun bagi Onad, kerugian materi bukan luka terdalam. Yang paling mahal justru pelajaran hidupnya.

“Uang bisa dicari. Tapi pelajaran ini mahal banget,” katanya.

Kini status hukumnya telah bersih. Bebas murni. Panggung kembali terbuka. Dunia hiburan memanggil lagi.

Namun Onad melangkah dengan versi yang berbeda—lebih pelan, lebih sadar, dan lebih ketat memilih siapa yang boleh berdiri di sekelilingnya.

Karena ia sudah belajar satu hal: bukan lampu panggung yang paling berbahaya, melainkan lingkaran yang salah.