📣 Ikuti saluran resmi WhatsApp kami sebelum membaca berita!

Join WhatsApp

Sidrap, katasulsel.com – Gubernur Sulawesi Selatan Andi Sudirman Sulaiman, izinkan kami bertanya dengan nada lurus dan dingin: mengapa jalan provinsi ini dibiarkan rusak?

Itu komentar salah seorang warga Sidrap, Amiruddin kepada Katasulsel.com, Selasa, 3 Februari 2026.

Ruas penghubung Sidrap–Soppeng, tepatnya antara Kota Pangkajene hingga Bila-bilae, Desa Tanete, kondisinya nyaris tak pantas disebut jalan.

Aspal berlubang di mana-mana. Bukan lubang kecil yang bisa ditertawakan. Ini lubang-lubang yang merusak kendaraan, memperlambat arus, dan membuka peluang kecelakaan.

Yang membuat warga makin heran: panjangnya hanya sekitar tiga kilometer.

Tiga kilometer, Pak Gubernur. Bukan puluhan. Bukan lintas kabupaten yang ribet pembebasan lahannya. Tapi tiga kilometer yang setiap hari dilalui warga Sidrap dan Soppeng—dan setiap hari pula dipaksa menelan risiko.

“Ini bukan jalan desa, ini jalan provinsi,” kata Saharuddin, warga Desa Tanete, dengan nada kesal. “Kalau motor sudah masuk lubang, kadang tidak sempat menghindar. Sudah beberapa kali orang hampir jatuh,” keluhnya.

Keluhan itu bukan tanpa alasan. Di malam hari, kondisi makin berbahaya sebab gelap. Belum lagi lubang tertutup air jika hujan. Pengendara seperti berjudi dengan nasibnya sendiri.

“Kalau hujan, kita tidak tahu mana aspal mana lubang,” ujar Nurhayati, warga lainnya. “Ban sering bocor, motor cepat rusak. Kami ini rakyat, Pak. Tapi seolah tidak terlihat,” komentar warga lainnya, Zain.

Ruas Pangkajene–Bila-bilae adalah jalur vital. Petani melintas. Pedagang lewat. Anak sekolah, pekerja, hingga ambulans pun kadang harus melewati jalan ini. Setiap lubang berarti waktu terbuang. Setiap kerusakan kendaraan berarti biaya tambahan bagi warga.

Pertanyaannya sederhana: apa yang ditunggu?
Apakah harus ada korban lebih dulu?
Apakah harus viral dulu?

Gubernur Andi Sudirman Sulaiman dikenal gemar berbicara soal infrastruktur. Jalan, jembatan, dan konektivitas sering menjadi kata kunci. Tapi di Desa Tanete, kata-kata itu belum terasa menjadi aspal yang utuh.

Warga tidak menuntut muluk-muluk. Tidak minta pelebaran. Tidak minta betonisasi mewah. Mereka hanya ingin jalan provinsi ini diperbaiki agar layak dilalui manusia, bukan diuji seperti lintasan off-road.

Tiga kilometer. Itu saja.
Pendek di peta.
Tapi panjang sekali dalam daftar keluhan rakyat.(*)