SIDRAP — Pagi belum terlalu tinggi ketika Bupati Sidenreng Rappang (Sidrap) Syaharuddin Alrif sudah berdiri di tengah sawah. Di tangannya, batang padi siap dipanen.
Hari itu, Rabu (11/3/2026), bukan sekadar agenda seremoni.
Dalam satu hari, Syaharuddin memimpin panen padi di dua lokasi berbeda. Dari Desa Lasiwala hingga Walatedong. Dari panen simbolis hingga pembicaraan serius tentang masa depan pangan Sidrap.
Lokasi pertama berada di Brigade Pangan Makkorong, Desa Lasiwala, Kecamatan Pitu Riawa. Di sana, panen berlangsung bersama petani dan jajaran pemerintah daerah.
Namun agenda tidak berhenti di situ.
Setelah rampung, rombongan langsung bergerak menuju Lingkungan II Walatedong, Kelurahan Sidenreng, Kecamatan Watang Sidenreng.
Di lokasi kedua inilah panen perdana musim tanam I dilaksanakan sebagai bagian dari upaya mendukung program swasembada pangan nasional.
Suasana di Walatedong terasa lebih ramai. Petani, penyuluh pertanian, aparat desa, hingga tokoh masyarakat berkumpul di area persawahan.
Turut hadir Asisten Ekonomi dan Pembangunan Patahangi Nurdin, Kepala Dinas PSDA Andi Safari Renata, Camat Watang Sidenreng Andi Saipullah Tenri Tatta, serta sejumlah pejabat teknis dari dinas pertanian.
Para penyuluh pertanian dari Kecamatan Watang Sidenreng dan Maritengngae juga hadir mendampingi petani.
Bagi Syaharuddin, panen ini bukan sekadar rutinitas tahunan. Ia menjadikannya momentum untuk berbicara tentang perubahan ekonomi petani.
Ia kemudian mengajak warga menghitung langsung perbandingan hasil panen beberapa
“Pada 2024 harga gabah sekitar Rp4.800 per kilogram dengan hasil sekitar 5 ton per hektare. Itu berarti pendapatan petani sekitar Rp23 juta per hektare,” ujarnya.
Namun kondisi itu mulai berubah.
Dengan peningkatan produktivitas dan harga gabah yang membaik, angka tersebut kini mengalami lonjakan.
“Sekarang perbandingannya 7,3 ton dikali harga Rp7.300. Itu sekitar Rp53 juta per hektare,” kata Syaharuddin.
Artinya ada kenaikan sekitar Rp20 juta per hektare.
Angka itu bukan sekadar statistik.
Bagi petani, itu berarti tambahan penghasilan yang cukup besar untuk memenuhi kebutuhan keluarga.
Namun Syaharuddin tidak ingin berhenti di angka tersebut.
Ia memasang target yang lebih tinggi.
Menurutnya, Walatedong harus mampu menembus produksi 10 ton padi per hektare.
“Saya ingin mantapkan Walatedong. Harus naik 10 ton per hektare. Ini target saya,” tegasnya.
Target tersebut bukan tanpa dasar. Sidrap selama ini dikenal sebagai salah satu lumbung padi utama di Sulawesi Selatan.
Karena itu, pemerintah daerah terus mendorong peningkatan produktivitas melalui berbagai program pertanian.
Mulai dari perbaikan irigasi, ketersediaan pupuk, hingga pendampingan penyuluh.
Syaharuddin juga mengingatkan bahwa dalam satu tahun masa kepemimpinannya, sejumlah program mulai direalisasikan.

Tinggalkan Balasan