📣 Ikuti saluran resmi WhatsApp kami sebelum membaca berita!
Join WhatsAppPalopo, Katasulsel.com — Pergantian Antar Waktu (PAW) anggota DPR RI akibat kepindahan Rusdi Masse (RMS) ke PSI ternyata bukan sekadar soal mengisi kursi kosong.
Di balik rapat internal NasDem Sulawesi Selatan, terjadi proses penyaringan yang cukup brutal—logika loyalitas menjadi senjata utama.
Dua nama yang sempat ramai disebut, Putri Dakka dan Hayarna Basmin, otomatis gugur dari bursa calon pengganti.
Alasannya klasik tapi mematikan; Putri Dakka pernah bertarung melawan NasDem di Pilwali Palopo melalui PDIP. Artinya, loyalitasnya sudah dicoret secara otomatis.
“Ini bukan soal mekanisme pemecatan atau drama politik. Sederhana: sudah melawan partai sendiri, otomatis tidak layak,” kata Tobo Haeruddin, Wakil Ketua OKK DPW NasDem Sulsel.
Ditambah, KTA Putri yang beredar di PDIP makin memperkuat logika itu: siapa menanam, dia menuai—kalau dulu melawan, jangan berharap diusulkan.
Hayarna Basmin sepertinya juga ikut tersingkir.
Bersama keluarganya, ia sudah menjadi bagian PSI. Dalam bahasa politik praktis, darahnya kini mengalir ke partai lain.
“Hayarna sudah darah PSI. Jadi wajar jika NasDem tak bisa mengklaimnya lagi,” ujar Tobo.
Andi Aslam pun tidak lagi masuk radar karena telah mengundurkan diri.
Satu per satu nama besar jatuh, dan hanya satu yang tersisa sebagai kandidat paling “steril”: Judas Amir.
Judas bukan sekadar kader biasa. Rekam jejaknya di Palopo dan Luwu menorehkan kemenangan untuk NasDem.
Dua kali menang di Palopo, pernah memimpin NasDem Luwu, Judas menunjukkan kinerja yang konkret.
Loyalitas dan kontribusi bagi partai jelas tak diragukan. Tobo menegaskan, “Prestasi itu harus dihargai. Dari sisi loyalitas dan kontribusi, Judas paling memungkinkan.”
Rapat internal DPW NasDem Sulsel untuk menentukan PAW masih menunggu Ketua DPW, Syaharuddin Alrif, kembali dari Jakarta.
Selain soal PAW RMS, rapat itu juga menjadi momen konsolidasi menyeluruh: struktur partai harus jalan selaras, solid, dan siap mempertahankan kemenangan NasDem di Sulsel.
Tobo menepis anggapan bahwa kepergian RMS membuat NasDem kehilangan pijakan: “Lengkap. Masih solid,” ujarnya singkat, menegaskan partai tetap kuat meski gelombang loyalitas dan perpindahan kader sempat mengguncang.
Di dunia politik Sulsel, PAW bukan sekadar pengisian kursi. Ini ritual seleksi loyalitas, di mana siapa yang “bersih” dan berprestasi akan tampil di panggung DPR, sementara yang menyimpang otomatis terpinggirkan. Dan Judas Amir?
Ia kini menunggu giliran untuk menapaki kursi kosong RMS—dengan catatan, partai tetap memandang prestasi dan loyalitas sebagai mata uang utama. (*)






Tinggalkan Balasan