Jakarta, Katasulsel.com — Pagi masih gelap. Sunyi.

Sebuah kontrakan di Bambu Apus, Cipayung, Jakarta Timur menyimpan rahasia. Pintu tertutup. Terkunci dari dalam.

Di dalamnya, seorang perempuan sudah tak bernyawa.

Ia adalah DA, cucu dari pelawak senior almarhumah Mpok Nori.

Ditemukan Sabtu dini hari. Sekitar pukul 04.30 WIB. Tergeletak di lantai. Darah sudah mengering.

Ada luka. Di leher.

Semua terasa janggal.

Keluarga mulai curiga sejak beberapa jam sebelumnya. Sekitar pukul 03.00 WIB, ibu korban datang. Pintu tak bisa dibuka. Terkunci dari dalam.

Kakak korban akhirnya membuka.

Dan di situlah semuanya terjawab.

Sunyi berubah jadi duka.

Polisi datang. Olah tempat kejadian perkara. Garis polisi terpasang. Fakta mulai tersusun.

Ini bukan kematian biasa.

Ini pembunuhan.

Nama pelaku muncul cepat. Bukan orang jauh.

Suami siri korban.

Seorang pria berinisial F, warga negara Irak.

Setelah kejadian, pelaku tak tinggal diam. Ia kabur. Berpindah-pindah. Dari Bogor. Ke Sukabumi. Berusaha menghapus jejak.

Tapi pelarian tak lama.

Sabtu siang. Di atas sebuah bus menuju Sumatera.

Di situlah semuanya berakhir.

Polisi menghentikan bus di KM 68 Tol Tangerang–Merak. Naik. Menyisir satu per satu penumpang.

Seorang pria duduk di dekat jendela. Hoodie hitam.

Dicurigai.

Didekati.

“Heh! Turun! Fuad, kan? Turun!”

Tidak ada perlawanan.

Pelaku turun. Digiring. Dibawa ke Polda Metro Jaya.

Kasus terang. Pelaku ditetapkan sebagai tersangka.

Pasal berat menanti.

Di balik semua ini, ada cerita yang belum sepenuhnya terungkap. Tentang hubungan. Tentang konflik. Tentang apa yang sebenarnya terjadi di dalam kontrakan itu.

Yang pasti, satu nyawa melayang.

Dan satu keluarga kehilangan.

Jakarta, Cipayung, Bambu Apus.

Pagi itu, bukan sekadar kabar duka.

Tapi tragedi. (*)

Gambar berita Katasulsel

Anda membaca Katasulsel.com, portal berita tepercaya dan berimbang.

Baca berita pilihan lainnya di saluran WhatsApp kami: Gabung di sini.